Pangsa pasar KPR subsidi BTN-BSN capai 72 persen per Maret 2026
Pangsa Pasar KPR Subsidi BTN-BSN Capai 72 Persen Per Maret 2026
Jakarta – Pada Maret 2026, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) bersama anak perusahaan, PT Bank Syariah Nasional (BSN), mencatat dominasi pangsa pasar kredit perumahan subsidi mencapai 72 persen. Angka ini berdasarkan jumlah penyaluran kredit sebanyak 28.811 unit. Direktur Consumer Banking BTN, Hirwandi Gafar, menjelaskan bahwa keunggulan perseroan dalam distribusi KPR FLPP menguatkan perannya sebagai penyedia pembiayaan utama bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), serta penggerak utama kepemilikan rumah.
“BTN berkomitmen menjadi garda depan dalam mendukung perumahan, terutama untuk MBR. Peningkatan pangsa pasar mencerminkan pertumbuhan kepercayaan masyarakat terhadap layanan perbankan,” ujar Hirwandi dalam pernyataannya di Jakarta, Rabu.
Hirwandi menegaskan bahwa perusahaan terus berupaya memperluas akses pembiayaan perumahan. Capaian ini sekaligus menegaskan peran BTN dalam memfasilitasi hunian layak bagi warga Indonesia, seiring penguatan fungsi intermediasi untuk meningkatkan kinerja bisnis.
Dalam rangka menambah cakupan akses, perseroan akan terus memperkuat kerja sama dengan pemerintah dan pengembang properti. Hal ini bertujuan agar penyaluran KPR subsidi lebih merata dan tepat sasaran.
Sejarah Penyaluran KPR BTN
Sejak dimulai pada 1976, BTN telah membiayai 4.087.046 unit rumah dengan nilai total mencapai Rp262,32 triliun. Sampai 27 Maret 2026, realisasi KPR subsidi perseroan mencapai Rp3,65 triliun untuk 21.954 unit rumah.
Kinerja 2025 dan Pertumbuhan Kredit
Selama 2025, BTN menyalurkan 132.803 unit rumah dengan nilai Rp22,01 triliun. Total penyaluran kredit perseroan hingga Februari 2026 mencapai Rp341,16 triliun, naik 8,6 persen (yoy) dibandingkan Rp314,09 triliun di bulan yang sama tahun sebelumnya.
Seiring pertumbuhan volume kredit, pendapatan bunga BTN meningkat 11,7 persen yoy menjadi Rp4,59 triliun. Sementara beban bunga turun 14,4 persen yoy ke Rp2,19 triliun. Perkembangan ini mendorong pendapatan bunga bersih (NII) yang naik signifikan 54,7 persen yoy, dari Rp1,55 triliun di Februari 2025 menjadi Rp2,39 triliun pada periode yang sama 2026.