Topics Covered: Dirut Pupuk pastikan HET pupuk subsidi tak naik meski gejolak Hormuz

Dirut Pupuk Pastikan HET Pupuk Subsidi Tetap Stabil Meski Gejolak Hormuz

Jakarta – Dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Kamis, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi memastikan harga eceran tertinggi (HET) pupuk subsidi tidak akan naik, meski terjadi kisaran ketidakstabilan di Selat Hormuz. “HET pupuk subsidi telah menurun 20% secara signifikan, dan tidak ada rencana untuk kembali meningkatkan, artinya HET tetap stabil,” ujarnya. Menurut Rahmad, meskipun jalur strategis Selat Hormuz menyumbang sekitar 30% perdagangan pupuk dunia, gangguan di kawasan tersebut tidak mengancam pasokan dalam negeri.

Pupuk Indonesia Memiliki Kapasitas Produksi Cukup Besar

Rahmad menegaskan bahwa Indonesia tidak terpengaruh secara signifikan karena memiliki kapasitas produksi urea yang cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional. Kapasitas operasional perusahaan mencapai 8,8 juta ton, sementara kapasitas terpasang sebesar 9,4 juta ton dengan sebagian fasilitas yang sudah berusia lama. Dengan angka tersebut, ia yakin pasokan pupuk subsidi maupun non-subsidi tetap terjaga tanpa ketergantungan pada impor.

“Selama ini, harga pupuk cenderung naik setiap tahun atau dua tahun sekali, tapi kini berhasil diturunkan berkat efisiensi anggaran yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto,” tambah Rahmad.

Kebijakan penurunan harga pupuk subsidi diluncurkan sejak Oktober 2025, menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan efisiensi. Penurunan harga berlaku untuk dua jenis utama, yaitu urea dan NPK. Untuk urea, harga per kilogram turun dari Rp2.250 menjadi Rp1.800, sehingga harga per sak 50 kilogram menurun dari Rp112.500 ke Rp90.000. Sementara NPK, harga per kilogram menjadi Rp1.840, mengurangi harga per sak menjadi Rp92.000.

Potensi Stabilisator Pangan Global

Dalam kondisi pasar internasional yang tidak pasti, Pupuk Indonesia berharap bisa menjadi penstabil ekosistem pangan. Hal ini terutama karena harga urea global sempat melonjak dari 400 dolar AS per ton menjadi 800 dolar AS per ton akibat penutupan Selat Hormuz, tetapi dampaknya tidak langsung mengganggu pasokan domestik. Selain itu, pasokan bahan baku fosfat dan potas juga dipastikan tetap aman karena tidak ada hambatan produksi dari negara-negara utama pengirim.

Rahmad menyebut bahwa penurunan HET memberikan dampak langsung pada peningkatan penggunaan pupuk nasional. “Penebusan pupuk pada 2025 dan 2026 meningkat signifikan, terutama di tahun 2026 mencapai kenaikan 31 persen,” jelasnya. Namun, ia belum merinci jumlah kuantitas pupuk subsidi yang disalurkan ke petani selama Januari-Maret 2026.

Keputusan ini diharapkan mendukung produktivitas sektor pertanian, sekaligus menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pupuk di dalam negeri. Pemerintah optimis bahwa kebijakan ini akan mendorong peningkatan produksi pangan secara signifikan di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *