Announced: Ekonom prediksi inflasi Maret lebih tinggi, tapi masih sesuai target

Ekonom Prediksi Inflasi Maret Lebih Tinggi, Tapi Masih Sesuai Target

Jakarta – Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memproyeksikan inflasi pada bulan Maret 2026 akan sedikit meningkat dibandingkan rata-rata bulanan sebelumnya, terutama didorong oleh kenaikan harga komoditas pangan dan energi. Meski demikian, angka tersebut masih berada dalam rentang target pemerintah, yaitu sekitar 2,5 persen plus-minus 1 persen.

“Karena ada efek Ramadan dan Lebaran, serta konflik geopolitik, inflasi Maret 2026 diperkirakan sedikit lebih tinggi, tetapi masih dalam koridor target pemerintah sebesar 2,5% ±1%,” ujar Esther Sri Astuti, Direktur Eksekutif INDEF, saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Selasa.

Menurut Esther, tiga faktor utama berpotensi mendorong kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Maret 2026. Pertama, inflasi demand-pull karena lonjakan permintaan barang dan jasa selama periode liburan dibandingkan hari-hari biasa. Kedua, inflasi cost-push yang disebabkan oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), yang memengaruhi biaya transportasi dan logistik serta mendorong kenaikan harga jual. Ketiga, inflasi imported yang dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik global.

Berdasarkan data terbaru, Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis laporan inflasi Maret 2026 pada Rabu (1/4) pukul 11.00. Sementara itu, inflasi tahunan Januari 2026 mencapai 3,55 persen year-on-year (yoy), sedangkan Februari 2026 sebesar 4,76 persen yoy.

Perubahan harga BBM juga menjadi perhatian. PT Pertamina (Persero) mengumumkan penyesuaian harga bahan bakar untuk beberapa wilayah sejak 1 Maret, dengan Pertamax nonsubsidi naik menjadi Rp12.300 per liter. Di Jabodetabek, harga Pertamax RON 92 meningkat dari Rp11.800 menjadi Rp12.300 per liter, sementara Pertamax Green RON 95 naik dari Rp12.450 menjadi Rp12.900 per liter.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *