Key Strategy: Asuransi Tugu catat hasil investasi naik 61,1 persen yoy pada 2025
Kinerja Investasi Asuransi Tugu Pratama Naik 61,1 Persen Tahun Ini
Jakarta – PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk, perusahaan anak PT Pertamina (Persero), mencatatkan pendapatan hasil investasi sebesar Rp717 miliar pada 2025. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, yang mencapai Rp445 miliar. Presiden Direktur Tugu Insurance, Adi Pramana, mengungkapkan bahwa peningkatan tersebut didorong oleh perubahan strategi alokasi portofolio serta manfaat dari kenaikan indeks IHSG di akhir tahun lalu.
“Kami memiliki strategi diversifikasi alokasi portofolio. Hasil investasi di anak usaha pun mengalami peningkatan, memanfaatkan momentum pasar tahun lalu. Pada akhir tahun, IHSG sempat naik,” jelas Adi Pramana di Jakarta, Jumat.
Dalam upaya meningkatkan keuntungan investasi, perusahaan menerapkan kombinasi portofolio yang mencakup bisnis dan finansial. Portofolio finansial meliputi berbagai instrumen seperti obligasi, deposito, serta saham. Diversifikasi ini bertujuan untuk merespons dinamika pasar secara lebih efektif.
Strategi Optimalisasi Portofolio Investasi
Direktur Keuangan dan Layanan Korporat Tugu Insurance, Fitri Azwar, menyampaikan bahwa perusahaan terus menyesuaikan struktur portofolio untuk meningkatkan hasil investasi. Fokus utamanya adalah pada instrumen pendapatan tetap yang menawarkan yield optimal, serta pengelolaan durasi yang lebih aktif agar bisa meraih peluang keuntungan lebih besar.
“Kenaikan pendapatan investasi pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya terutama didorong oleh alokasi aset yang lebih strategis, terlebih pada instrumen pendapatan tetap seperti obligasi dan deposito,” imbuh Fitri.
Fitri juga menambahkan bahwa stabilitas pasar keuangan domestik selama 2025 menjadi faktor penting dalam mendorong performa investasi. Pendekatan yang prudent dan konsisten ini, katanya, menjadi salah satu penunjang utama dalam mencapai profitabilitas perusahaan.
Pengembangan ESG Melalui Green Bond
Perusahaan berupaya memperluas diversifikasi portofolio melalui instrumen green bond, sebagai bagian dari komitmen mendukung arahan regulator terkait Enviromental, Social, and Governance (ESG). Namun, Fitri mengungkapkan bahwa suplai green bond di pasar masih terbatas, sehingga alokasi instrumen tersebut belum maksimal.
“Meskipun suplai green bond saat ini masih sedikit, kami percaya tren ESG akan terus berkembang. Kenaikan permintaan dan penawaran segera meningkatkan likuiditas, serta memperkaya komponen investasi perusahaan di masa depan,” jelas Fitri Azwar.