Latest Program: Penjualan ritel AS berpotensi turun imbas perang dengan Iran

Penjualan Ritel AS Diprediksi Turun Akibat Dampak Perang dengan Iran

Washington – Data penjualan retail Amerika Serikat (AS) pada Februari 2026 mencatat peningkatan sebesar 0,6 persen dibandingkan bulan sebelumnya, menurut laporan Biro Sensus AS yang diterbitkan Rabu (1/4). Namun, para ahli mengingatkan bahwa tren ini bisa berubah di bulan berikutnya jika konflik dengan Iran terus berlangsung. Perang yang memasuki pekan kelima ini telah mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz, mengakibatkan lonjakan harga minyak dan risiko inflasi yang lebih tinggi.

Kenaikan Harga Bensin dan Kecemasan Publik

Laporan Selasa (31/3) menyebutkan bahwa harga bensin rata-rata nasional AS mencapai di atas 4 dolar per galon, level tertinggi sejak 2022. Kenaikan ini memperparah ketidakpuasan masyarakat terhadap kondisi ekonomi. Sebuah survei CNN, yang diterbitkan Rabu (1/4), menunjukkan sekitar dua pertiga warga AS menganggap kebijakan Presiden Donald Trump telah memperburuk situasi perekonomian.

“Saya tidak melihat adanya cara untuk menghindari inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan penjualan yang lebih lambat. Satu-satunya pertanyaan adalah seberapa besar,” ujar Dean Baker, pendiri Center for Economic and Policy Research, kepada Xinhua.

Proyeksi Inflasi dan Dampak Pasokan

Menurut Gary Hufbauer, rekan senior nonresiden di Peterson Institute for International Economics, harga minyak diperkirakan akan tetap stabil di kisaran 100 dolar per barel sepanjang tahun ini. Hal ini berpotensi membuat inflasi mendekati atau melampaui 4 persen, karena tekanan terhadap pasokan energi yang berkelanjutan. Baker juga menambahkan bahwa gangguan terhadap Selat Hormuz bisa menyebabkan kekurangan pupuk global, mengurangi hasil panen kecuali selat tersebut kembali normal segera.

Perdebatan tentang Akhir Perang

Presiden Trump berulang kali menyatakan bahwa perang dengan Iran akan segera berakhir. Meskipun demikian, para ahli mengingatkan bahwa penyelesaian konflik ini mungkin lebih kompleks dari yang diyakini Trump. Ia mengatakan kedua pihak sedang berdiskusi, tetapi Teheran membantah klaim tersebut. Bahkan jika selat dibuka kembali, para ekonom mengatakan harga minyak mungkin tidak kembali ke level sebelum perang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *