Latest Program: Rupiah melemah seiring Trump ancam tutup Selat Hormuz
Rupiah Mengalami Penurunan Akibat Ancaman Trump untuk Tutup Selat Hormuz
Pada Senin pagi, kurs rupiah mengalami penurunan 17 poin atau 0,10 persen, mencapai Rp17.121 per dolar AS. Nilai ini lebih rendah dari level penutupan sebelumnya, yaitu Rp17.104 per dolar AS. Perubahan ini terjadi dalam konteks ancaman yang dilontarkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Selat Hormuz.
Ketakutan akan Ketegangan Geopolitik
Menurut Lukman Leong, analis dari Doo Financial Futures, pelemahan rupiah dipicu oleh ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. “Rupiah akan terus melemah terhadap dolar AS jika situasi di Timur Tengah tidak stabil,” ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Senin. Ancaman Trump terkait pembatasan akses kapal di Selat Hormuz memicu kekhawatiran pasar akan konflik lebih lanjut antara AS dan Iran.
Sebagaimana dilaporkan Sputnik, Trump menyatakan bahwa AS akan segera memulai pembatasan lalu lintas kapal di Selat Hormuz untuk menghentikan tindakan “pemerasan” yang dianggap dilakukan Iran. Ia menegaskan bahwa Angkatan Laut AS akan menghalangi semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari wilayah tersebut hingga kesepakatan antarpihak tercapai.
Respon Iran terhadap Langkah AS
Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Aziz, menjelaskan bahwa Iran memutuskan untuk menetapkan sistem tarif bagi kapal yang melewati Selat Hormuz dan Teluk Persia. “Setiap kapal yang ingin berlayar di Selat Hormuz harus membayar biaya sesuai aturan nasional,” tambah Aziz. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk pengendalian atas alur perdagangan minyak dan sumber daya alam.
Analisis tersebut mengarah pada proyeksi kurs rupiah berkisar antara Rp17.050 hingga Rp17.200 per dolar AS. Lukman memprediksi bahwa jika ketegangan di Timur Tengah berlanjut, tekanan terhadap mata uang lokal akan semakin berat, berpotensi mendorong kenaikan suku bunga oleh The Fed.