New Policy: OJK yakin bank bisa hadapi risiko konflik Timteng, pastikan CAR kuat

OJK yakin sektor perbankan mampu mengatasi ancaman konflik Timur Tengah serta dampaknya yang merambat, sekaligus menjaga CAR dalam posisi kuat untuk menahan risiko

Jakarta, Rabu – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yakin industri perbankan Indonesia mampu menghadapi tekanan akibat konflik Timur Tengah dan risiko yang terbawa ke sistem keuangan nasional. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menegaskan bahwa kondisi permodalan (capital adequacy ratio /CAR) industri tersebut tetap stabil, bahkan melebihi standar internasional.

“Kita pernah menghadapi situasi yang lebih parah, seperti pandemi COVID-19 yang berlangsung bertahun-tahun, tetapi berhasil bertahan berkat kebijakan yang diterapkan. ‘Tidak ada hal yang perlu terlalu dikhawatirkan karena kita telah melewati tantangan yang lebih berat,’ ujarnya saat ditemui di DPR RI, Jakarta, Rabu.”

Dian menjelaskan bahwa dampak konflik Timur Tengah ke sistem keuangan nasional sangat bergantung pada lamanya konflik berlangsung. Ia menyatakan bahwa OJK terus memantau dan mengevaluasi berbagai potensi risiko yang muncul. Dampak konflik dapat memasuki sistem keuangan melalui beberapa jalur seperti fluktuasi nilai tukar, inflasi, serta indikator ekonomi lainnya.

Dian menambahkan bahwa semua implikasi tersebut sedang dan terus diteliti secara mendalam, termasuk risiko pasar yang mungkin terjadi. Pemantauan dilakukan secara berkala, bahkan hingga tingkat bank individual. ‘Bank-bank melakukan stress test secara sukarela, dan kami juga melakukan hal serupa di tim OJK untuk mengevaluasi kemampuan mereka menangani risiko,’ katanya.

Dian juga menjawab pertanyaan tentang proyeksi net interest margin (NIM) tahun ini, menyebutkan bahwa pertumbuhannya bergantung pada kondisi ekonomi dan faktor-faktor seperti suku bunga, simpanan, penyaluran kredit, serta risiko pasar, termasuk kemungkinan kenaikan yield. Menurutnya, efek ketidakpastian global terhadap NIM industri perbankan masih terjadi, meski tingkatannya akan ditentukan berdasarkan perkembangan situasi.

Saat ditanya apakah NIM industri bisa meningkat tahun ini, Dian mengatakan belum bisa memastikan karena memerlukan analisis kondisi perekonomian dan situasi bisnis secara menyeluruh. “Situasi kondisi perekonomian kita, situasi bisnis, dan lainnya, kita harus”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *