Main Agenda: Kementerian Kebudayaan bersinergi untuk perkuat ekosistem perfilman

Kolaborasi Kementerian Kebudayaan dan PFN untuk Memajukan Industri Film

Dalam upaya memperkuat sistem perfilman nasional, Kementerian Kebudayaan fokus pada pembentukan sinergi bersama PT Produksi Film Negara (PFN). Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menegaskan pentingnya kerja sama dengan PFN untuk meningkatkan kemitraan antara pemerintah dan sektor swasta dalam bidang produksi film. “Kami ingin mengoptimalkan peran PFN sebagai mitra strategis dalam membangun ekosistem film yang lebih kuat,” ujarnya, seperti yang dilaporkan dalam siaran pers resmi.

Langkah Awal Kolaborasi

Pertemuan antara Menteri Kebudayaan dan Direktur Utama PFN, Riefian Fajarsyah, telah dilakukan untuk menyelaraskan berbagai program. Fokus utama diskusi mencakup penguatan kerangka industri, pemberdayaan pelaku seni, serta pelestarian warisan budaya dari sektor film. Fadli menyoroti bahwa kolaborasi ini bertujuan mengangkat kualitas film Indonesia di panggung internasional.

“Kami ingin menempatkan PFN sebagai fasilitator, bukan sekadar kompetitor, dalam mendukung inisiatif kreatif pelaku perfilman,” tutur Riefian.

Riefian menjelaskan bahwa PFN sedang melakukan perubahan struktur organisasi guna memperkuat kontribusinya terhadap pertumbuhan industri film. Menurutnya, sebagai badan pemerintah, PFN harus berperan sebagai penggerak dan pendorong bagi inisiatif-inisiatif yang mendorong kreativitas. Ia juga menyampaikan rencana pembangunan pusat produksi film baru yang dilengkapi berbagai fasilitas, seperti studio, ruang pelatihan, dan tempat kerja sineas.

Dukungan Pemerintah untuk Penguatan Ekosistem

Beberapa instrumen pendukung telah disiapkan oleh pemerintah, termasuk peningkatan Manajemen Talenta Nasional dan pemberian dana serta bantuan teknis bagi seniman film. Selain itu, upaya digitalisasi, restorasi, dan pendataan film menjadi prioritas dalam pengelolaan aset budaya. Fadli juga menekankan urgensi pembangunan museum film untuk melestarikan memori kolektif bangsa.

“Kita akan identifikasi film yang perlu didigitalisasi maupun direstorasi, mengingat proses tersebut membutuhkan sumber daya yang tidak sedikit,” kata Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra. Ia menambahkan bahwa kolaborasi dengan PFN akan menjadi penopang utama dalam menjaga keberlanjutan karya film nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *