Solution For: Film horor “Songko” hadirkan kisah terinspirasi legenda Minahasa
Film Horor “Songko” Hadirkan Kisah Terinspirasi Legenda Minahasa
Proyek film horor “Songko” yang dikembangkan oleh Dunia Mencekam Studio dan Rumah Produksi Santara menghadirkan narasi berakar pada tradisi lokal Sulawesi Utara. Proses pembuatan film ini menjadi debut pertama Gerald Mamahit sebagai sutradara, yang menggali cerita menegangkan dari legenda Minahasa dan Tomohon. Dengan menegaskan keterlibatan budaya, film ini bertujuan menyajikan ketakutan yang lebih dari sekadar visual.
Keterlibatan Talenta Lokal dan Alur Cerita
Para pemain seperti Annette Edoarda, Imelda Therinne, Fergie Brittany, Tegar Satria, dan Khiva Iskak turut berperan dalam memperkaya narasi. Proses syuting di Tomohon dianggap sangat mendukung atmosfer misterius yang ingin ditampilkan. “Yang membuat film ini menarik adalah kisahnya berasal dari legenda yang benar-benar dipercaya oleh masyarakat,” jelas Khiva Iskak. Sementara Annette Edoarda menyatakan tertarik ikut karena ceritanya membedakan dari genre horor biasa.
“Songko adalah cerita yang sangat dekat dengan budaya dan legenda masyarakat Minahasa. Kami ingin menghadirkan horor yang terasa autentik, bukan hanya menakutkan secara visual, tetapi juga memiliki akar cerita yang kuat dari tradisi lokal,” ujar Gerald Mamahit.
“Yang membuat film ini menarik adalah kisahnya berasal dari legenda yang benar-benar dipercaya oleh masyarakat. Saat menjalani proses syuting di Tomohon, suasananya terasa sangat kuat dan mendukung atmosfer cerita,” ungkap Khiva Iskak.
“Songko bukan hanya film horor biasa. Ceritanya tentang ketakutan, tuduhan, dan bagaimana sebuah desa bisa terpecah karena teror yang tidak mereka pahami,” kata Annette Edoarda.
Komitmen Hyperlocal Storytelling
Sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem perfilman daerah, produksi ini tidak hanya mengambil latar dari Minahasa. Tim juga membangun area set di kaki Gunung Lokon, Tomohon, sebagai infrastruktur kreatif berkelanjutan. Seluruh cast dan crew berasal dari Minahasa, Manado, dan Tomohon, menciptakan ruang kolaborasi yang memperkuat kesan lokal.
Film ini berlatar tahun 1986, di sebuah desa di Tomohon, tanah Minahasa, yang dilanda teror misterius. Satu per satu perempuan muda ditemukan tewas tanpa penjelasan pasti. Warga mulai percaya bahwa kejadian itu bukan biasa, dan menganggap desa mereka didatangi oleh Songko, makhluk yang dianggap mengincar darah suci perempuan. Tuduhan terus memuncak hingga akhirnya mengarah pada keluarga Mikha. Helsye, ibu tiri Mikha, dituduh sebagai dalang yang memanggil makhluk itu.
Film “Songko” akan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 23 April 2026.