Main Agenda: Program “Dandan Kampung” Surabaya ubah wajah permukiman warga

Program “Dandan Kampung” Surabaya Perubahan Permukiman Warga

Surabaya menjadi salah satu kota yang menerapkan strategi penataan permukiman berbasis partisipasi masyarakat melalui program “Dandan Kampung”. Langkah ini dipimpin oleh Ketua Komisi C DPRD Kota Surabaya, Eri Irawan, yang menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, organisasi swadaya, serta komunitas lokal. “Program ini tidak hanya mempercantik wilayah, tetapi juga memperkuat keterlibatan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang lebih layak huni, produktif, dan beridentitas,” jelas Eri dalam wawancara di Surabaya, Kamis.

Kolaborasi Membentuk Konsep Penataan

Menurut Eri, inisiatif ini berjalan efektif karena melibatkan berbagai pihak, termasuk mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Keterlibatan mereka menjadi faktor penting dalam merancang strategi pengembangan kampung. Selain itu, warga aktif berpartisipasi melalui diskusi tingkat lingkungan, yang menciptakan komunikasi dua arah dalam proses perencanaan.

“Saya melihat sinergi yang baik antara mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun konsep kawasan yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya.

Fokus Program untuk Perbaikan Lingkungan

Program “Dandan Kampung” memiliki empat aspek utama: meningkatkan kualitas hunian, memaksimalkan ruang publik, memperkuat identitas wilayah, serta menciptakan lingkungan yang ramah lingkungan. Wilayah yang menjadi target antara lain Kampung Dinoyo, Kampung Keputran, Kampung Lawas Maspati, Kampung Semanggi, Kampung Pecinan, dan Kampung Ketandan. Eri menegaskan bahwa desain kampung dirancang secara partisipatif, sehingga sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi penduduk.

Dampak pada Ekonomi dan Tata Kota

Dari perspektif tata kota, program tersebut berkontribusi pada pengurangan area kumuh dan peningkatan kualitas lingkungan hidup. Selain itu, perubahan fisik dan struktur kampung juga meningkatkan nilai aset rumah tangga serta membuka peluang usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Eri menilai, inisiatif ini menggambarkan pendekatan pembangunan yang mengutamakan keterlibatan komunitas sebagai model pengembangan kota berkelanjutan.

“Program ini menunjukkan pergeseran pandangan terhadap permukiman rakyat, dari sekadar ruang fisik menjadi ruang yang memiliki makna sosial dan ekonomi,” tutur Eri. Dengan pendekatan ini, Surabaya diharapkan menjadi contoh bagus dalam transformasi kawasan yang lebih harmonis dan berdaya saing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *