Arak-arakan Pegon – tradisi turun temurun warga pesisir selatan Jember
Arak-arakan Pegon, Tradisi Turun Temurun Warga Pesisir Selatan Jember
Kendaraan Tradisional yang Tetap Dihargai
Pegon, kendaraan tradisional berbahan dasar kayu yang ditarik dua ekor sapi, masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember. Meski seiring waktu alat transportasi ini semakin langka, tradisi penggunaannya tetap dijaga. Selain sebagai sarana angkut, pegon kini dianggap sebagai simbol kebudayaan yang memperkaya identitas lokal.
Festival sebagai Sarana Pelestarian Budaya
Setiap Lebaran Ketupat, warga setempat mengadakan Festival Pegon, acara yang diawali dengan arak-arakan menghiasi jalan-jalan desa. Tradisi ini diadakan tujuh hari setelah Idul Fitri, dengan rombongan berangkat dari Balai Desa Sumberejo menuju Pantai Watu Ulo. Aktivitas tersebut sekaligus menjadi ajang silaturahmi dan penguatan ikatan kekeluargaan masyarakat.
Dalam perayaan, warga membawa makanan tradisional seperti ketupat, sayur, dan olahan hasil pertanian untuk dinikmati di lokasi acara. Selain itu, prosesi diiringi oleh lantunan doa sebagai ungkapan rasa syukur. Fahrul Asrori, Pelaksana Tugas Camat Ambulu, mengungkapkan bahwa tradisi ini tidak hanya sekadar perayaan, tetapi juga representasi kebanggaan budaya masyarakat setempat.
“Arak-arakan pegon merupakan ikon Desa Sumberejo yang diadakan setiap hari ketujuh bulan Syawal,” ujarnya.
Sebagai alat transportasi, pegon masih digunakan petani untuk mengangkut pupuk, hasil panen, dan bahan bangunan. Jumlah kendaraan ini memang berkurang dibanding era 1800-an, tetapi fungsi dan maknanya tetap dilestarikan. Kegiatan festival menjadi momentum yang unik, di mana gerobak kayu beralih menjadi kendaraan hias yang membawa keluarga untuk berwisata.
Festival Pegon pertama kali diadakan pada 1989, tepatnya di hari ketujuh setelah Lebaran. Acara ini lahir dari keinginan masyarakat untuk mengabadikan sejarah dan menghidupkan kembali budaya mereka. Dengan adanya festival, nilai-nilai tradisi tetap terjaga meski dunia semakin berkembang.