Key Strategy: ITB serahkan program air bersih di Agam dukung pemulihan pascabencana

ITB Serahkan Program Air Bersih di Agam untuk Dukung Pemulihan Pasca Bencana

Di Lubuk Basung, Institut Teknologi Bandung (ITB) meluncurkan program penyediaan air bersih di Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Langkah ini bertujuan mempercepat proses pemulihan masyarakat setelah bencana banjir yang terjadi beberapa waktu lalu.

Kolaborasi Pihak Lain untuk Pemulihan Infrastruktur

Rektor ITB, Tata Cipta Dirgantara, menyatakan akses air bersih menjadi dasar penting dalam menjaga kesehatan warga serta memulihkan aktivitas sosial dan ekonomi. “Dengan program ini, kita memberikan solusi bagi kebutuhan dasar masyarakat,” ujarnya saat acara serah terima di Puskesmas Koto Alam.

“IPB telah memasang 63 instalasi pengolahan air bersih di Sumbar, Sumatera Utara, dan Aceh sepanjang masa tanggap darurat,” tambahnya.

Program tersebut dijalankan melalui kerja sama ITB dengan Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI), didukung Ikatan Alumni ITB (IA ITB), Rumah Amal Salman, serta Paragon Corp yang menyumbangkan 200 paket bingkisan pangan.

Infrastruktur Baru untuk 281 Keluarga

Sejumlah 4,1 kilometer jaringan pipa air berbahan HDPE kini siap digunakan, melayani 281 keluarga atau sekitar 1.000 warga. Sistem ini memiliki kapasitas distribusi 35.000 liter per hari. Selain itu, lebih dari 10 titik keran hidran dirancang untuk memudahkan penggunaan air bersih.

“Pembangunan jaringan pipa ini didanai dari donasi masyarakat yang terkumpul untuk korban bencana di Sumatera,” kata Ketua Rumah Amal Salman, Mipi Ananta Kusuma.

Sejumlah lebih dari 50 warga lokal turut terlibat dalam pembangunan. Partisipasi ini tidak hanya mempercepat penyelesaian, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi serta meningkatkan rasa bangga terhadap infrastruktur yang dibuat.

Peran Puskesmas dalam Pemulihan

Program ini telah membantu Puskesmas Koto Alam melayani sekitar 150 pasien. “Dua bulan setelah bencana, pelayanan kesehatan sempat terhenti karena krisis air. Kini situasi mulai normal,” kata Asisten I Bidang Pemerintah dan Kesra Sekretariat Daerah Agam, Yunilson.

“Kita berharap kolaborasi antara ITB dan IIDI terus berlanjut, karena pemulihan pasca bencana membutuhkan dukungan bersama,” tambahnya.

Dalam pernyataannya, Yunilson menekankan bahwa kerugian mencapai Rp7,9 triliun di Agam—daerah terparah di Sumbar akibat bencana—telah berangsur teratasi, tetapi ada instalasi yang masih perlu perbaikan. Keterlibatan pihak ketiga dianggap kunci dalam percepatan pemulihan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *