Key Strategy: KPPG sebut Program MBG serap 9.601 tenaga kerja lokal di Kepri
KPPG: Program MBG Serap 9.601 Tenaga Kerja Lokal di Kepri
Tanjungpinang, Senin — Kepala Kantor Pelayanan Pangan Gizi (KPPG) Wilayah Riau, Sumbar, dan Kepulauan Riau (Kepri), Syartiwidya, mengungkapkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menciptakan peluang kerja bagi 9.601 warga lokal di wilayah tersebut. Ia menjelaskan tenaga kerja ini tersebar di 223 dapur yang melayani kebutuhan gizi di tujuh kabupaten/kota Kepri.
Dampak Positif dan Kontribusi MBG
Menurut Syartiwidya, setiap dapur satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) membutuhkan sekitar 40 hingga 50 tenaga operasional, termasuk juru masak, petugas logistik, dan kebersihan. Selain itu, ada peran pengemudi serta pendukung seperti kepala SPPG, ahli gizi, dan akuntan. “Program ini menjadi salah satu jawaban nyata untuk mengurangi angka pengangguran, sekaligus memastikan masyarakat mendapatkan asupan gizi yang cukup,” tambahnya.
“MBG bukan hanya soal makanan, tetapi investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi sehat, cerdas, dan kompetitif,” ujar Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura, yang juga Ketua Kelompok Kerja (Pokja) MBG lokal.
Sementara itu, Nyanyang Haris Pratamura menyoroti peran MBG dalam meningkatkan kualitas gizi anak sekolah, serta mendukung fokus belajar dan kehadiran peserta didik. Ia juga menyebut program ini sebagai bagian dari upaya mencegah stunting dan gizi buruk. “Dengan memanfaatkan hasil pertanian serta UMKM lokal, MBG memberikan dampak sosial dan ekonomi yang signifikan,” lanjutnya.
Menurut data terkini, per April 2026, jumlah penerima manfaat MBG di Kepri mencapai 544.585 orang, atau 85 persen dari target 679.402. Peserta program meliputi peserta didik, anak balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Nyanyang menekankan pentingnya sinergi lintas sektor, koordinasi yang kuat, serta inovasi dalam implementasi program Asta Cita ini.
Ia juga menyoroti tantangan geografis Kepri yang terdiri dari pulau-pulau, sehingga membutuhkan strategi distribusi yang efektif. “Kepatuhan mitra dan yayasan dalam mengelola MBG sesuai SOP BGN sangat krusial,” tutur Nyanyang. “Pengawasan internal dan eksternal, termasuk peran masyarakat, menjadi penjamin keberlanjutan program ini,” pungkasnya.