Key Strategy: Menteri PPPA: Anak perempuan masih banyak yang berhenti sekolah
Menteri PPPA: Anak perempuan masih banyak yang berhenti sekolah
Jakarta – Dalam sebuah acara di Jakarta pada Rabu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menyatakan bahwa masih ada banyak anak perempuan yang meninggalkan sekolah karena beberapa faktor, termasuk perkawinan dini serta keterbatasan ekonomi.
Kendala dalam akses pendidikan
Dalam bidang pendidikan, tercatat banyak kasus anak perempuan yang terpaksa putus sekolah karena pernikahan dini, keterbatasan finansial, dan norma sosial yang memprioritaskan pendidikan bagi anak laki-laki.
Arifah Fauzi menegaskan bahwa berbagai hambatan yang dihadapi perempuan dan anak-anak, seperti ketimpangan akses pendidikan, peluang ekonomi yang terbatas, serta tingginya risiko kekerasan, menunjukkan perlunya pembangunan yang lebih berimbang dari segi gender.
Pendidikan sebagai fondasi pemberdayaan
Dalam pidatonya, ia menekankan peran pendidikan sebagai fondasi utama dalam memperkuat posisi perempuan. “Pendidikan bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi juga membentuk kepercayaan diri, membuka peluang hidup, serta meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan di tingkat individu, keluarga, dan masyarakat,” tambah Arifah Fauzi.
Tantangan dalam implementasi strategi
Pemerintah telah mengadopsi pengarusutamaan gender sebagai strategi nasional untuk peningkatan pembangunan. Namun, masih ada tantangan seperti kurangnya kesadaran masyarakat mengenai gender, ketidakterpaduan kapasitas sumber daya manusia, dan sinergi antar sektor yang belum optimal.
Arifah Fauzi berharap kegiatan “Pencanangan Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan” bisa mewujudkan pendidikan yang adil, inklusif, serta menciptakan kesempatan yang setara bagi seluruh perempuan Indonesia.
“Kita yakin, tanpa kesetaraan gender, tidak akan ada pembangunan yang berkualitas,” tutur Arifah Fauzi.