New Policy: Pemprov Jateng bantu perbaikan rumah warga Demak yang diterjang banjir
Pemprov Jateng bantu perbaikan rumah warga Demak yang diterjang banjir
Peninjauan di Dukuh Solondoko, Desa Trimulyo
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memberikan bantuan perbaikan tujuh unit rumah warga yang rusak akibat banjir di Kabupaten Demak. Bantuan ini dilakukan melalui program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengungkapkan, selain itu, ada tambahan bantuan 127 paket sembako dari Baznas Jateng serta dana senilai Rp10.065.500 dari PMI Jateng.
“Sudah kita asesmen. Tinggal kita petakan lagi secara detail, kita hitung kebutuhannya apa saja. Penanganannya tidak bisa sendiri, harus bersama-sama antara kabupaten, provinsi, dan juga pemerintah pusat,” jelasnya.
Berdasarkan pendekatan kolaboratif, Taj Yasin menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor agar banjir yang sering berulang tidak terus menghantui wilayah rawan. Ia menambahkan, pemulihan dan pencegahan jangka panjang menjadi fokus utama.
Perbaikan rumah warga, kata dia, tidak hanya terbatas pada fase darurat, tetapi juga mencakup rencana rehabilitasi. Untuk mempercepat proses, Pemprov Jateng menggandeng berbagai pihak. Sumber pendanaan berasal dari pemerintah provinsi, pusat, kabupaten, Baznas, hingga PMI. Sementara tenaga pelaksana melibatkan relawan dari organisasi kemasyarakatan.
“Tadi kami sudah komunikasi dengan Ansor. Insya Allah Banser dari Jateng dan kabupaten akan membantu tenaga untuk perbaikan rumah warga,” terangnya.
Salah satu korban banjir, Ma’arif (39), menyampaikan kondisi saat ini sedikit membaik dibandingkan masa kejadian. Ia mengatakan, bantuan mulai terasa, mulai dari nasi bungkus, listrik, hingga air bersih. Namun, kerusakan yang dialami masih cukup parah. Rumah Ma’arif rusak sekitar 40 persen, sedangkan rumah orang tuanya hanyut tanpa sisa. Sebagian besar barang pun hilang terbawa arus.
“Kalau rumah kayu seperti kami, satu unit bisa sekitar Rp80 juta. Itu belum isinya,” ujarnya.
Banjir yang melanda Demak terjadi karena jebolnya tanggul Sungai Tuntang di Desa Trimulyo dan Sidoharjo pada Jumat (3/4). Tanggul dilaporkan rusak di beberapa titik, menyebabkan air meluap dan merendam permukiman di sembilan desa yang terletak di empat kecamatan, yaitu Guntur, Wonosalam, Karangtengah, dan Kebonagung. Sebanyak 5.148 jiwa terdampak, dengan 2.867 di antaranya sempat mengungsi. Saat ini, jumlah pengungsi yang tersisa hanya 12 orang di Madin Sindon.
Setelah sebagian wilayah mulai surut, satu titik tanggul yang belum tertutup sempat kembali menggenangi Dukuh Solondoko. Upaya darurat langsung dilakukan untuk mencegah kenaikan air. Meski begitu, pemulihan jangka panjang tetap menjadi prioritas utama bagi pemerintah setempat.