Prosesi Jalan Salib Katedral Jakarta ajak umat kembali ke Tuhan

Prosesi Jalan Salib Katedral Jakarta Ajak Umat Kembali ke Tuhan

Dalam rangka memperingati Jumat Agung 2026, Gereja Katedral Jakarta menghadirkan “Jalan Salib Kreatif”, sebuah acara yang menggabungkan elemen teater, musik, dan tari. Tujuan utamanya adalah mengingatkan jemaat untuk terus kembali kepada Tuhan, terlepas dari kondisi hidup yang sulit.

Peran Petrus dalam Kisah Sengsara Yesus

Imam Gereja Katedral Jakarta, Romo Yohanes Deodatus, menjelaskan bahwa prosesi ini menggunakan perspektif Petrus, salah satu murid Yesus yang awalnya bersungguh-sungguh mengikutinya, tetapi akhirnya menyangkal Sang Kristus dalam kelemahan. “Perspektif ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa manusia, dalam penderitaan atau ketakutan, bisa berubah dan meninggalkan Tuhan. Namun, Yesus tetap mencintai dan memilih Petrus, serta tidak pernah menyerah pada kita,” ujarnya.

“Meski manusia penuh dosa dan sempat menyangkal keberadaan Tuhan, Ia tidak pernah meninggalkan kita. Pesan ini menjadi fokus utama dalam prosesi ini, agar umat mengingat kembali hubungan dengan Sang Pencipta,” kata Romo Yohanes.

Persiapan untuk acara ini telah dimulai sejak November 2025. Tim yang terlibat mencakup 200 anggota Orang Muda Katolik (OMK) yang terpilih melalui casting. “Para pemain bukan profesional, melainkan teman-teman muda yang bersedia berlatih intensif selama lima bulan,” tambahnya.

Prosesi dengan Pandangan Unik

Michael, yang memerankan Petrus, mengakui bahwa tanggung jawab peran tersebut terasa berat. “Penonton perlu memahami isi kitab suci, tetapi secara perlahan, dukungan dari panitia, tim, dan komunitas OMK membuat saya yakin untuk terlibat,” katanya. Ia juga merasa senang karena tahun sebelumnya pernah memerankan Yusuf dalam perayaan Paskah. “Katedral Jakarta terus berinovasi, dengan tema Jalan Salib kali ini memperlihatkan sudut pandang berbeda dari tokoh-tokoh yang terlibat,” ujarnya.

“Audience harus merasakan makna kisah sengsara Yesus. Dengan tema ‘Lux in Nihilo’, kita menyoroti keberadaan Tuhan di tengah kegelapan atau ketiadaan,” tambah Michael.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *