Solution For: Kemenag: MOOC Pintar bidik pelatihan 500 ribu pendidik secara serentak
Kemenag: MOOC Pintar Targetkan Pelatihan 500 Ribu Pendidik Secara Serentak
Jakarta – Kementerian Agama (Kemenag) sedang menggarap desain pengembangan SDM berbasis digital dengan pendekatan inovatif Micro-Credentials melalui platform MOOC Pintar. Tujuan utamanya adalah mencapai partisipasi masif hingga 500.000 pendidik di seluruh Indonesia secara bersamaan. “Jika pelatihan dilakukan secara tradisional, maka ketertinggalan kompetensi ASN akan terjadi secara pasti,” jelas Mastuki, Kepala Pusbangkom SDM Kemenag, dalam wawancara di Jakarta, Kamis.
Mastuki menegaskan bahwa transformasi digital kini bukan lagi opsi, melainkan keharusan untuk mencapai jutaan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Indonesia. Ia menyebutkan ada enam alasan penting yang mendorong perubahan ini. Pertama, digitalisasi memungkinkan akses ke jutaan ASN yang tersebar di berbagai daerah. Kedua, efisiensi anggaran melalui penggunaan biaya pelatihan yang optimal. Ketiga, peningkatan kecepatan belajar dengan distribusi informasi yang lebih cepat. Keempat, memastikan akses yang adil bagi pendidik di wilayah terpencil. Kelima, pemanfaatan sistem data untuk pemantauan progres secara real-time. Terakhir, adaptasi terhadap perubahan cara belajar masyarakat yang membutuhkan fleksibilitas.
“Platform Pintar memastikan materi pelatihan berkualitas dan standar sama diterima oleh seluruh guru, kepala madrasah, hingga staf secara serentak,” tambah Mastuki.
Menurut Bahrul Hayat, pakar pendidikan dan mantan Sekjen Kemenag 2006-2014, tren pengembangan kompetensi masa kini bergerak ke arah micro-credentials. Dalam pendekatan ini, topik utama dibagi menjadi subtopik spesifik dan singkat. “Ini memudahkan peserta belajar, karena mereka bisa memperoleh pengetahuan meski hanya memiliki waktu dua atau tiga jam,” ujar Bahrul Hayat.
Kelengkapan pelatihan juga dilengkapi dengan pengakuan bertingkat. Peserta yang menyelesaikan lima, sepuluh, atau lebih materi akan mendapat gelar atau level kompetensi sebagai bentuk penghargaan atas kemajuan belajarnya. Bahrul Hayat menekankan bahwa model ini menawarkan fleksibilitas yang tidak terdapat dalam metode konvensional.