Special Plan: Kemenkes: Meski campak turun 93 persen, surveilans tetap ketat

Kemenkes: Meski campak turun 93 persen, surveilans tetap ketat

Jakarta – Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa meskipun angka kasus campak di Indonesia mengalami penurunan besar, surveilans terhadap penyakit ini tetap dilakukan dengan intensif. Hal ini diungkapkan oleh dr. Andi Saguni, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit, dalam wawancara di Jakarta pada Selasa. Ia menjawab kecemasan publik terkait keandalan data selama masa libur Lebaran.

“Sistem pengawasan terus berjalan optimal. Kami memantau secara langsung melalui metode NAR dan SKDR, yang kemudian diverifikasi oleh dinas kesehatan daerah,” kata dr. Andi.

Hingga minggu ke-12 tahun 2026, jumlah kasus harian berkurang hampir 93%, dari puncak 2.220 kasus di awal tahun menjadi 146 kasus pada pertengahan Maret. “Penurunan ini terpantau stabil di 14 provinsi dan 10 kabupaten/kota yang sebelumnya mengalami peningkatan signifikan,” tambahnya.

Di sisi lain, data nasional mencatat 10 kematian akibat campak sepanjang 2026. Salah satu kasus yang mencolok terjadi di Kabupaten Cianjur, menimpa seorang dokter magang bernama AMW (25). Pria ini meninggal pada 26 Maret 2026 setelah mengalami komplikasi pada jantung dan otak. AMW diduga tertular saat menangani pasien pada 8 Maret, meski telah mengalami gejala demam sejak 18 Maret. Kondisinya memburuk setelah muncul ruam pada 21 Maret, hingga akhirnya mengalami penurunan kesadaran dan meninggal di ICU RS Cimacan.

“Kasus AMW telah diverifikasi laboratorium Biofarma sebagai infeksi campak,” jelas dr. Andi.

Saat kejadian, Cianjur mencatat 15 kasus suspek dan 10 kasus konfirmasi. Puncak penularan terjadi pada minggu ke-10. Menurut Kemenkes, sekitar 8% dari total kasus campak menjangkau kelompok dewasa. Faktor risiko utamanya adalah komorbiditas dan tingkat paparan yang tinggi.

Dalam upaya mencegah penyebaran lebih lanjut, pemerintah sedang mempercepat pengujian vaksin untuk menyasar kelompok usia dewasa, khususnya tenaga medis. “Kasus AMW mendorong kami memberikan vaksinasi bagi semua peserta program internship. Kami juga memastikan ketersediaan APD dan menyesuaikan beban kerja serta waktu istirahat tenaga kesehatan,” terang dr. Andi.

Menurutnya, disiplin dalam prosedur kerja sangat penting untuk memutus rantai penularan. “Jika terdapat gejala kecil, segera lapor, istirahat, dan hindari bekerja terlalu keras,” ingatnya. Kemenkes menyerukan masyarakat dan tenaga medis yang belum divaksinasi untuk segera melengkapi imunisasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *