Special Plan: Perbaiki kualitas MBG, SPPG Kemayoran evaluasi karyawan secara berkala

Perbaiki kualitas MBG, SPPG Kemayoran evaluasi karyawan secara berkala

Jakarta, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kemayoran Harapan Mulia 1 berkomitmen memperkuat program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan melakukan penilaian rutin terhadap tenaga relawan setiap satu hingga dua minggu sekali. Program ini melayani 3.298 peserta di tujuh sekolah di Jakarta Pusat, termasuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B).

Kepala SPPG Kemayoran Harapan Mulia 1, Fakhri Irfan Pribadi, menjelaskan bahwa meskipun para relawan telah memiliki sikap profesional, evaluasi kemampuan mereka tetap dilakukan secara berkala untuk memastikan kualitas pelayanan. Penilaian mencakup aspek pendidikan gizi, pelatihan, serta keterampilan lainnya.

“Sebenarnya kita melihat semua karyawan ini, mereka sudah beretika, tetapi kembali lagi, kami terus mengevaluasi kemampuan SDM relawan. Kita setiap seminggu atau dua minggu sekali melakukan evaluasi terhadap relawan, baik itu edukasi gizi, kemampuan pelatihan relawan, dan lain sebagainya,” kata Fakhri.

Sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas, SPPG juga menerapkan pemeriksaan kesehatan relawan sebelum memulai tugas di dapur MBG. Selain itu, seluruh proses dari pengambilan bahan hingga distribusi telah diakui dengan sertifikasi HACCP, yang memastikan titik kritis pengendalian pangan diketahui sejak awal.

“Kemudian, kita di sini juga dari penerimaan bahan baku sampai distribusi, telah menerapkan sertifikasi Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP), di mana kita harus tahu terlebih dahulu titik kritis kontrolnya. Jadi, kalau misal dari penerimaan bahan baku, dari awal ada bahan baku yang menurut kita dari bau, aroma, atau teksturnya tidak sesuai, kita berhak mengembalikan ke pemasok,” ujar dia.

Fakhri menambahkan bahwa pengolahan limbah di SPPG-nya diatur sesuai standar operasional prosedur (SOP) dan petunjuk teknis dari Badan Gizi Nasional (BGN). Ia juga menyebutkan tidak ada perbedaan signifikan dari segi menu yang diberikan kepada penerima manfaat sebelum atau sesudah libur Lebaran.

“Perbedaan menonjol hanya terjadi ketika menu dirapel sebelum SPPG libur, yang disebut sebagai menu istimewa. Kalau untuk menu pas Lebaran, hampir 80 persen kering, tetapi untuk 20 persennya kita pernah menu kering itu diolah, seperti puding atau makaroni schotel. Menu rapelnya itu kita akumulasikan dengan harga satu harinya itu kan Rp10.000, jadi dikali tujuh hari sebesar Rp70.000, itu perintah dari pusat langsung, namanya waktu itu menu istimewa,” kata Fakhri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *