Topics Covered: BPBD Jatim: 815 desa berpotensi kekeringan dampak Godzilla El Nino
BPBD Jatim: 815 Desa Berpotensi Terkena Kekeringan Akibat El Nino Ekstrem
Prediksi BMKG dan Tantangan Air Bersih
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mengungkapkan bahwa sebanyak 815 desa di provinsi tersebut berisiko mengalami kekeringan akibat dampak fenomena El Nino ekstrem, yang dikenal dengan sebutan Godzilla El Nino. Kalaksa BPBD Jatim, Gatot Soebroto, mengatakan wilayah yang terkena kondisi ini terdistribusi di 222 kecamatan, meliputi 26 kabupaten.
“Pemerintah provinsi telah meningkatkan kewaspadaan terhadap musim kemarau yang diperkirakan lebih panas dan berlangsung lebih lama dibandingkan masa sebelumnya,” ujarnya.
Menurut prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau akan dimulai pada April dan berlangsung hingga November, dengan puncaknya di bulan Agustus. Gatot menambahkan bahwa El Nino tahun ini diperkirakan lebih kuat, sehingga suhu udara meningkat dan durasi kemarau memperpanjang. “Ini berpotensi memperparah risiko kekeringan di sejumlah daerah,” tuturnya.
Kerentanan Wilayah dan Strategi Mitigasi
Banyak desa yang berpotensi mengalami kekeringan berada di area dengan tingkat kerentanan tinggi terhadap krisis air, terutama tempat yang bergantung pada air hujan dan memiliki infrastruktur air bersih yang kurang memadai. “Kondisi ini membuat masyarakat sangat rentan saat musim kemarau tiba lebih lama dari biasanya,” jelas Gatot.
Untuk mengatasi ancaman tersebut, BPBD Jatim bersama OPD terkait sedang menyusun strategi mitigasi. Salah satu tindakan yang diambil adalah mengadakan rapat koordinasi lintas sektor yang akan dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Timur. “Rapat ini bertujuan memastikan seluruh pihak siap menghadapi bencana kekeringan,” ucapnya.
Lebih lanjut, upaya menyediakan air bersih menjadi prioritas utama. BPBD Jatim telah menyiapkan skema distribusi ke wilayah terdampak, termasuk penggunaan truk tangki untuk mengirim bantuan air. “Kami akan memetakan daerah yang membutuhkan penanganan segera agar masyarakat tidak kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan sehari-hari,” tambah Gatot.