Topics Covered: Literasi rendah, Mendikdasmen soroti proses belajar yang kurang tepat

Literasi rendah, Mendikdasmen soroti proses belajar yang kurang tepat

Dalam upacara peluncuran Program Pencanangan Kolaborasi Multipihak untuk Penguatan Literasi dan Numerasi Nasional di Jakarta, Kamis, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyoroti bahwa kesenjangan literasi dan numerasi pada anak-anak di tingkat pendidikan dasar dipengaruhi oleh metode pengajaran yang tidak efektif.

“Banyak proses pembelajaran di lapangan belum sepenuhnya menunjang pengembangan kemampuan membaca dan menulis secara tepat,” ujarnya.

Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa pembelajaran membaca sering kali hanya berupa mengikuti instruksi guru tanpa mengutamakan pemahaman kritis. “Pembelajaran ini sering diabaikan karena membaca bukan sekadar mengeja kata-kata guru, tetapi lebih pada kemampuan berpikir logis,” tambahnya.

“Literasi anak bisa dimulai dari kebiasaan menyukai buku dan berhitung sejak dini. Kebiasaan membaca juga berpengaruh pada kemampuan berpikir mereka,” ujar Abdul Mu’ti.

Menurutnya, kebiasaan membaca dan kompetensi membaca saling melengkapi, bisa dimulai dari satu atau dua hal tersebut. “Bahan bacaan dan materi pembelajaran yang menstimulasi anak-anak untuk gemar membaca harus diperkenalkan sejak awal,” terangnya.

“Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kemendikdasmen telah menerbitkan berbagai buku menarik agar anak bisa terbiasa dengan literasi. Bahan bacaan tidak harus selalu buku, bisa berupa koran, majalah, atau bentuk lain yang mendorong kebiasaan membaca,” ucap Mendikdasmen Abdul Mu’ti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *