What You Need to Know: Mama-mama Kampung Enggros jaga hutan bakau

Mama-mama Kampung Enggros Jaga Hutan Bakau

Kota Jayapura memiliki sebuah kampung bernama Enggros, yang dikenal sebagai Injros, di mana hutan bakau berperan penting dalam kehidupan masyarakat setempat. Bagi perempuan-perempuan di wilayah tersebut, hutan bakau bukan hanya tempat mencari makanan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas dan tradisi mereka. Setelah menyelesaikan tugas rumah tangga, ibu-ibu di kampung ini kerap menghabiskan waktu di hutan bakau, mengumpulkan ikan serta berbagai hasil laut lainnya seperti udang, kepiting, dan kerang.

Peran Mangrove dalam Kehidupan Komunitas

Kampung Enggros, yang berada di Teluk Youtefa, dihuni sekitar 371 kepala keluarga. Wilayah ini dapat dicapai dengan kendaraan hingga ke tepi pantai, lalu melanjutkan perjalanan menggunakan perahu motor selama sekitar 10 menit. Beberapa rumah di dalam kampung hanya bisa diakses dengan perahu bermotor atau dayung. Bagi perempuan, hutan bakau menjadi area khusus yang menawarkan penghasilan sekaligus kehangatan komunitas.

Petronea Merauje, Pelopor Perlindungan Lingkungan

Seorang perempuan bernama Petronela Merauje memainkan peran sentral dalam menjaga keberlanjutan hutan bakau. Dengan usia 45 tahun, ia menggagas kegiatan menanam bakau di tepi pantai dan menekankan pentingnya menjaga kawasan tersebut. “Hutan bakau bukan hanya melindungi kampung dari abrasi, tetapi juga menjadi sumber penghasilan bagi kami,” ujarnya.

“Di sana, kami sering bercerita dan tertawa lebar tanpa takut ada yang mendengar selain kami,” kata Petronela.

Hutan bakau di Kampung Enggros dianggap sebagai ruang pribadi perempuan. Pria tidak diperbolehkan masuk ke wilayah tersebut, terlepas dari alasan apa pun. Hanya wanita yang diberi izin untuk berinteraksi, mencari hasil laut, dan menjaga keharmonisan komunitas. Hal ini menjadi dorongan kuat bagi mama-mama di sana untuk terus melestarikan hutan bakau. “Kami ingin anak-anak perempuan kami tetap bisa melanjutkan tradisi ini,” imbuhnya.

Kampung dengan jumlah penduduk sekitar 571 jiwa ini menunjukkan bagaimana hutan bakau menjadi pusat kehidupan sosial dan ekonomi. Selain menghasilkan makanan, hutan tersebut juga menjadi tempat pertemuan dan berbagi cerita, memperkuat ikatan antar sesama perempuan. Keberlanjutan hutan bakau bukan hanya tentang lingkungan, tetapi juga tentang warisan budaya yang terus dijaga oleh mama-mama Enggros.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *