Special Plan: BYD dorong ekspansi global yang saling menguntungkan
BYD Dorong Ekspansi Global yang Saling Menguntungkan
Dari Beijing, perusahaan otomotif asal Tiongkok, BYD, telah menegaskan komitmen untuk mendorong ekspansi global yang saling menguntungkan. Dengan meningkatnya harga bahan bakar yang mempercepat peralihan konsumen ke kendaraan listrik (EV), produsen ini menekankan prioritas pada inovasi teknologi dan kemitraan strategis, guna memperkuat kehadiran mereka di pasar internasional.
Pada negara seperti Thailand, BYD berhasil memperoleh dukungan penting dari tokoh pemerintah, yakni Perdana Menteri Anutin Charnvirakul, yang baru saja menjabat. Ia terlihat menggunakan mobil listrik BYD dan mengunjungi stan perusahaan di Bangkok International Motor Show pada 28 Maret. Kinerja penjualan kendaraan listrik BYD di Thailand terus meningkat, didukung oleh permintaan yang stabil dan strategi pemasaran yang efektif, seperti yang diungkapkan oleh perusahaan tersebut.
Di sisi lain, pihak BYD menjelaskan bahwa pertumbuhan ini berkat kebijakan pemerintah Thailand yang mendukung industri otomotif baru, serta kenaikan harga minyak global yang menggarisbawahi keunggulan EV dalam aspek biaya. Perusahaan tersebut juga menegaskan bahwa keberhasilan di kawasan tersebut dipengaruhi oleh jajaran produk yang kompetitif dan strategi lokalisasi yang kuat, yang menggabungkan produksi lokal dengan jaringan penjualan dan layanan purnajual yang terus berkembang.
Pabrik Terlokalisasi di Rayong
Pada 2022, BYD memasuki pasar Thailand dan secara bertahap bertransformasi dari model ekspor ke pendekatan ekosistem produksi yang terlokalisasi sepenuhnya. Pabrik mobil penumpang pertama mereka di luar negeri, di Rayong, memiliki kapasitas tahunan 150.000 unit kendaraan, dengan lebih dari 90% tenaga kerjanya berasal dari dalam negeri.
Perluasan pasar BYD tidak terbatas pada Asia Tenggara. Menurut data terbaru, pada tahun 2025, perusahaan ini mencatatkan penjualan lebih dari 1,049 juta unit kendaraan di luar negeri, naik 145% dibandingkan tahun sebelumnya. Di Inggris, penjualan melebihi 50.000 unit, naik 485% secara tahunan, sementara Jerman, Spanyol, dan Italia masing-masing mencatatkan angka di atas 20.000 unit. Australia juga menunjukkan pertumbuhan signifikan, dengan lebih dari 50.000 unit terjual, membuat BYD berada di antara sepuluh merek teratas.
“Produksi kami sejalan dengan permintaan pasar, dan harga di luar negeri umumnya lebih tinggi dibandingkan harga di dalam negeri, tanpa adanya praktik dumping harga rendah,” kata BYD.
Pendekatan ini didasari oleh sistem rantai pasok yang terpadu, yang mencakup baterai, komponen, hingga proses perakitan. Kombinasi antara daya saing biaya dan inovasi pesat menjadi semakin menonjol seiring kenaikan harga bahan bakar yang memaksa konsumen merevisi pilihan transportasi mereka.
“Industri otomotif global sedang mengalami transformasi mendalam yang berpusat pada elektrifikasi, kecerdasan, serta konektivitas, dan China berada di garis depan pergeseran ini,” tambah Zhou Fatao, sekretaris jenderal Asosiasi Industri NEV Guangdong.
Dalam negara-negara seperti Thailand dan Australia, showroom penjualan NEV China melaporkan peningkatan signifikan jumlah pengunjung langsung, pengujian berkendara, serta konsumen yang melakukan pemesanan. Hal ini terjadi meski ada ketegangan geopolitik yang mengganggu pasar energi global sejak Maret.