Meeting Results: Menteri UMKM ingin integrasikan UMKM Indonesia ke rantai pasok China

Menteri UMKM Berharap Perkuat Kerja Sama Dengan Tiongkok

Di Beijing, Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menyatakan keinginan untuk meningkatkan keterlibatan sektor UMKM Indonesia dalam sistem rantai pasok global, termasuk Tiongkok. “Kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok dalam bidang UMKM perlu ditingkatkan, terutama untuk memperkuat integrasi usaha kecil dan menengah Indonesia ke dalam rantai pasok global,” ujarnya dalam forum yang berlangsung Rabu (1/4). Acara ini menampung perwakilan pengusaha Tiongkok dan pembuat kebijakan dari Indonesia, serta dihadiri oleh Duta Besar RI untuk Tiongkok dan Mongolia, Djauhari Oratmangun.

Penguatan Kemitraan Strategis dan Kebijakan

Maman menekankan bahwa UMKM harus didorong untuk masuk ke ekosistem industri yang terstruktur melalui kerja sama strategis. “Klaster industri yang diperkuat berdasarkan sektor tertentu serta integrasi ke jaringan produksi regional akan meningkatkan pertumbuhan usaha, efisiensi, serta daya saing yang berkelanjutan,” tambahnya. Selain itu, ia menyebut perlunya kolaborasi investasi dan transfer teknologi untuk mendukung modernisasi sektor UMKM. “Dukungan teknologi, pembiayaan, dan peningkatan kapasitas SDM menjadi kunci, serta Indonesia membuka peluang kerja sama di bidang manufaktur, digital, dan industri cerdas,” jelas Maman.

“Saya memang membaca teks pidato ini, tetapi dengan gaya bahasa santai saya ingin mengatakan, jika Anda ingin bahagia, datanglah ke negara saya. Jika Anda bahagia, negara saya juga harus bahagia. Mari kita bahagia bersama,” kata Maman disambut tawa dari sejumlah pengusaha hadir.

Indonesia Tawarkan Peluang Ekonomi Besar

Dubes Djauhari Oratmangun menyoroti bahwa Tiongkok tetap menjadi mitra utama ekonomi Indonesia. “Perdagangan bilateral kita telah mencapai angka penting, dengan total perdagangan mendekati 168 miliar dolar AS, menjadikan Tiongkok mitra dagang terbesar Indonesia,” katanya. Menurut Djauhari, Indonesia memiliki potensi besar untuk menarik investasi. “Saya ingin mengutip slogan Nike, Anda lakukan saja. Datang dan berinvestasilah di Indonesia, kami memiliki populasi 280 juta, perekonomian terbesar di ASEAN, serta pasar yang luas,” tambah Dubes.

Transformasi Geoekonomi dan Geopolitik

Dubes Djauhari juga menyebut perubahan geoekonomi dan geopolitik saat ini mengarah pada kawasan Asia. “Dengan menjalin hubungan yang kuat antara Indonesia, Tiongkok, dan ASEAN, kita dapat menjamin posisi kawasan ini sebagai pusat transformasi ekonomi di masa depan,” ungkapnya. “Tiongkok, ASEAN, dan Indonesia akan memimpin proses ini serta mendapatkan manfaat dari pergeseran struktur ekonomi global,” tambah Dubes.

Data Statistik UMKM di Indonesia dan Tiongkok

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah UMKM di Indonesia mencapai 65,5 juta unit, berkontribusi 61,9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sebanyak 119 juta tenaga kerja juga dipekerjakan oleh sektor ini, atau sekitar 97 persen dari total tenaga kerja nasional. Di sisi lain, data Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi Tiongkok menunjukkan bahwa jumlah UKM di Tiongkok hampir 60 juta pada akhir 2024, dengan pendapatan mencapai 81 triliun yuan (sekitar 11,2 triliun dolar AS). Dari jumlah tersebut, 600.000 UKM fokus pada inovasi teknologi, termasuk 14.600 perusahaan yang disebut “raksasa kecil” dengan spesialisasi pada sektor khusus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *