New Policy: Negara Teluk kaji proyek pipa energi untuk hindari Selat Hormuz
Negara Teluk kaji proyek pipa energi untuk hindari Selat Hormuz
Menyusul meningkatnya kekhawatiran tentang ketergantungan pada jalur energi Selat Hormuz, negara-negara Teluk kembali mengajukan ide proyek pipa sebagai alternatif. Laporan Financial Times, Kamis (1/4), menyoroti upaya ini sebagai respons terhadap risiko gangguan di jalur strategis tersebut yang bisa mengancam ekspor minyak dan gas dari kawasan. Beberapa pejabat serta pelaku industri mulai meninjau kembali opsi pembangunan pipa yang sebelumnya dianggap mahal atau sulit.
Pipa Timur-Barat Arab Saudi, yang mengangkut minyak ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah, kini diakui memiliki nilai strategis tinggi. Seorang eksekutif energi Teluk menyebut proyek ini sebagai “jenius” jika melihat dari perspektif jangka panjang. CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, menegaskan bahwa jalur ini tetap menjadi “rute utama” tetapi sedang dipertimbangkan ekspansi kapasitas dan pembangunan terminal baru.
Dalam skenario jangka panjang, beberapa eksekutif menilai koridor perdagangan dari India hingga Eropa melalui Teluk mungkin menjadi solusi. Selain itu, pembangunan jalur pipa ke Mediterania juga dianggap sebagai alternatif yang layak. Namun, tantangan besar masih menghiasi proyek ini. CEO Cat Group, Christopher Bush, menyatakan pembangunan ulang pipa Timur-Barat membutuhkan minimal 5 miliar dolar AS, sementara rute yang lebih kompleks, seperti melalui Irak dan Yordania, bisa mencapai 15-20 miliar dolar AS.
“Orang-orang perlu mengendalikan nasib mereka sendiri, bersama teman-teman mereka,” ujar CEO NewMed Energy, Yossi Abu, dalam wawancara terpisah.
Besides biaya yang tinggi, rute pipa ke Oman menghadapi tantangan teknis di wilayah gurun dan pegunungan. Selain itu, potensi sengketa politik terkait kepemilikan dan pengoperasian juga menjadi hambatan. Bush menambahkan bahwa para pengambil kebijakan Teluk kini menganggap isu ini sebagai hal mendesak. “Banyak pemikir sedang menelaah ini sekarang. Ini masalah besar,” tuturnya.
Ketegangan antara AS-Israel dengan Iran serta gangguan di Selat Hormuz telah memengaruhi aliran energi regional. Pada 2 Maret, Iran mengumumkan pembatasan navigasi di jalur pelayaran tersebut dan mengancam akan menyerang kapal yang melintas tanpa izin. Selat Hormuz menjadi jalur utama bagi sekitar 20 persen pasokan minyak global, sehingga meningkatnya ketidakamanan berdampak pada kenaikan harga serta biaya pengiriman dan asuransi.