Special Plan: China sambut gencatan senjata AS-Iran meski tak ungkap perannya
Beijing – Pemerintah China menyambut gencatan senjata dan rencana negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran meski tidak menyampaikan secara langsung apa peran Tiongkok untuk mewujudkan langkah damai tersebut. "China menyambut baik pengumuman kesepakatan gencatan senjata oleh pihak-pihak terkait. Kami mendukung upaya mediasi oleh negara-negara termasuk Pakistan," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing, Rabu.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan Amerika Serikat dan Iran, bersama sekutu mereka, telah menyepakati gencatan senjata segera di seluruh zona konflik, termasuk Lebanon. Hal tersebut disampaikan melalui platform media sosial X pada Rabu (8/4). Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ia setuju untuk menangguhkan pemboman dan serangan terhadap Iran selama periode dua minggu.
Namun dalam wawancara dengan media di AS, Trump mengatakan ia yakin China telah membujuk Iran untuk bernegosiasi. Selain itu laporan media juga menyebut Iran menerima gencatan senjata yang dimediasi Pakistan setelah intervensi China pada saat-saat terakhir yang meminta Iran "untuk menunjukkan fleksibilitas dan meredakan ketegangan" di tengah kekhawatiran akan dampak ekonomi. "Kami selama ini telah menyerukan kepada pihak-pihak terkait untuk mengakhiri permusuhan sesegera mungkin dan menyelesaikan perselisihan melalui saluran politik dan diplomatik untuk mencapai perdamaian dan keamanan yang langgeng di kawasan Teluk dan Timur Tengah.
China telah melakukan upaya aktif untuk tujuan ini," tambah Mao Ning tanpa menjelaskan upaya aktif dalam bentuk apa. Sejak pertempuran dimulai, Mao Ning menyebut, China telah aktif berupaya membantu mengakhiri konflik tersebut. "Menteri Luar Negeri Wang Yi melakukan 26 panggilan telepon dengan rekan-rekannya dari negara-negara terkait.
Utusan Khusus pemerintah China untukTimur Tengah melakukan perjalanan ke wilayah Teluk dan Timur Tengah dalam upaya mediasi," ungkap Mao Ning. Mao Ning mengatakan China dan Pakistan bersama-sama mengajukan inisiatif lima poin untuk memulihkan perdamaian dan stabilitas di kawasan Teluk dan Timur Tengah. "Sebagai negara besar yang bertanggung jawab, China akan terus memainkan peran konstruktif dan memberikan kontribusi positif untuk memulihkan perdamaian dan ketenangan di kawasan Teluk dan Timur Tengah," tambah Mao Ning.
China, jelas Mao Ning, akan menjaga komunikasi dengan semua pihak dan terus berupaya untuk meredakan ketegangan dan mengakhiri konflik. Bila semua lancar, delegasi dari AS dan Iran akan datang ke ibu kota Pakistan, Islamabad, pada Jumat (10/4) untuk melanjutkan negosiasi guna mencapai kesepakatan konklusif dalam menyelesaikan semua perselisihan. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) Iran juga mengumumkan bahwa negara tersebut akan mengalokasikan waktu selama dua pekan untuk pembicaraan tersebut dan dapat diperpanjang dengan persetujuan kedua pihak.
SNSC mengatakan bahwa AS "secara prinsip" telah menerima proposal berisi 10 poin yang bertujuan untuk mengakhiri perang. Lembaga penyiaran milik Iran, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB) mengutip pernyataan dan laporan terkait, mengatakan bahwa proposal tersebut mencakup jaminan tidak adanya agresi terhadap Iran, kelanjutan kontrol Iran atas Selat Hormuz, pengakuan hak Teheran untuk pengayaan uranium, serta pencabutan semua sanksi utama dan sekunder AS. Selain itu, tercantum pula penghentian resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB dan Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional terhadap Iran, pembayaran kompensasi, penarikan pasukan tempur AS dari kawasan, serta penghentian permusuhan di semua garda depan, termasuk di Lebanon.
Gencatan senjata akan diumumkan pada pekan ini dan negosiasi bukan berarti perang dengan Amerika Serikat berakhir, menurut SNSC, apabila Amerika melakukan "kesalahan sekecil apa pun" selama pembicaraan nanti, maka Iran akan merespons dengan kekuatan penuh. Sedangkan Trump di platform Truth Social mengatakan "Berdasarkan pembicaraan dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Marsekal Asim Munir, di mana mereka meminta saya untuk menahan mengirim angkatan penghancur ke Iran dengan syarat Republik Islam Iran menyetujui pembukaan Selat Hormuz secara menyeluruh, segera, dan aman, maka saya setuju untuk menangguhkan pengeboman dan serangan ke Iran selama dua pekan. Ini akan menjadi gencatan senjata dua arah,".
Lebih lanjut, Trump mengatakan bahwa alasan pihaknya menyetujui gencatan senjata dengan Iran adalah karena Amerika telah mencapai dan melampaui semua tujuan militer dalam perang terhadap Iran. "Kami juga telah mencapai tahap yang sangat jauh terkait kesepakatan yang definitif mengenai perdamaian jangka panjang dengan Iran, dan perdamaian di Timur Tengah," ujar presiden AS itu.