Latest Program: Program sedekah sampah, Matraman kumpulkan hasil tertinggi
Program Sedekah Sampah, Matraman Catatkan Hasil Tertinggi
Jakarta – Kecamatan Matraman di Jakarta Timur (Jaktim) berhasil menempati posisi teratas dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang diarahkan ke fasilitas pengolahan di Ciracas. Program ini, yang diinisiasi melalui kegiatan sedekah sampah di masjid dan musola, menjadi salah satu strategi utama dalam meningkatkan partisipasi masyarakat.
“Matraman kemarin termasuk paling tinggi dalam kontribusi sampah ke Ciracas, ke Pusat Daur Ulang Plastik (PDUP) Ciracas. Karena di Pulogadung sudah ada pembatasan, jadi kita dorong lewat program sedekah sampah,” ujar Camat Matraman, Muhammad Husnul Fauji, di Jakarta Timur, Kamis.
Berdasarkan data terbaru, jumlah sampah nonorganik yang dikumpulkan dalam satu bulan terakhir mencapai 3.349 kilogram. Posisi kedua ditempati Kecamatan Jatinegara dengan 2.784 kilogram, disusul Cipayung 2.096 kilogram, Cakung 1.315 kilogram, dan Ciracas 771 kilogram. Kecamatan Kramat Jati, Pulo Gadung, Duren Sawit, Pasar Rebo, serta Makasar juga berpartisipasi, meski jumlahnya lebih rendah.
Husnul menambahkan, program pilah sampah ini tidak hanya mencakup rumah tangga, tetapi juga diperluas ke tempat ibadah. Ada 83 masjid, 21 musala, satu pondok pesantren, dan 43 bank sampah yang terlibat dalam upaya pengurangan volume sampah. “Sampah-sampah itu diambil langsung oleh Suku Dinas Lingkungan Hidup dan dibawa ke PDUP di Ciracas. Bahkan Pak Wali memberikan apresiasi karena Matraman dinilai paling tinggi dalam pemilahan sampah,” jelas Husnul.
Program tersebut didasari kebijakan pembatasan pembuangan sampah di kawasan Pulogadung, yang diumumkan melalui Surat Edaran Wali Kota Jakarta Timur pada 23 Februari 2024. Dalam penerapannya, sampah yang telah dipilah dikumpulkan di berbagai titik, termasuk masjid, musola, dan Bank Sampah Unit (BSU) yang terdistribusi di tingkat RT dan RW. Selanjutnya, petugas Suku Dinas Lingkungan Hidup mengangkut sampah ke fasilitas pengolahan.
Husnul menyebut kapasitas penampungan di Ciracas masih cukup besar. Saat ini, volume sampah yang masuk dari tiap wilayah masih berada di bawah 10 ton. “Suplai dari masing-masing kecamatan hanya sekitar satu hingga nol koma sekian persen, jadi masih ada peluang besar untuk ditingkatkan,” ujar Husnul.
Sebelumnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Timur mendorong pemilahan sampah dari sumbernya, yaitu rumah tangga, guna mengurangi beban di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Wali Kota Jakarta Timur, Munjiri, mengatakan pihaknya berupaya mengoptimalkan kolaborasi dengan PDUP Ciracas untuk mengelola sampah anorganik. “Pemilahan sampah dari rumah tangga adalah langkah penting agar pembuangan di TPST lebih ringan,” tutur Munjiri.
Lebih lanjut, Munjiri menjelaskan bahwa Satuan Tugas (Satgas) Bank Sampah di setiap kelurahan telah dibentuk berdasarkan Surat Edaran Wali Kota Nomor e-0005/SE/2026. Tim ini bertugas mengkoordinasikan pengiriman sampah dari Bank Sampah Unit ke PDUP Ciracas serta melaporkan aktivitas melalui sistem daring. Lima kecamatan, yaitu Cipayung, Ciracas, Kramat Jati, Pasar Rebo, dan Makasar, telah terhubung ke sistem penampungan yang berpusat di Ciracas.