6 bahan “red flag” yang tersembunyi dalam camilan favorit
6 Bahan ‘Red Flag’ Tersembunyi dalam Camilan Favorit
Jakarta – Meskipun camilan kemasan tampak menarik, tidak semua pilihan itu bermanfaat bagi kesehatan. Kandungan bahan-bahan pembuatnya bisa berdampak negatif meski tampilan produk menggiurkan.
Bahan Penyebab Kecanduan Makan
Pelatih nutrisi dan kebugaran di Life Time Plymouth, Keri Anderson, menyoroti bahwa kebanyakan camilan kemasan tidak selalu jelek. Namun, banyak dari produk ini dirancang untuk memicu hasrat makan berulang, bukan untuk memberi rasa kenyang yang tahan lama.
“Banyak camilan kemasan sebenarnya tidak selalu ‘jelek’, tetapi banyak yang dibuat agar kita terus ingin makan lagi, bukan benar-benar membuat kenyang atau puas,” kata Anderson, dikutip dari laman Eat This Not That, Selasa (31/3).
Gula Tambahan yang Tersembunyi
Satu bahan yang patut diwaspadai adalah gula tambahan, terutama jenis tersembunyi. Anderson menyebut bahan seperti gula tebu, sirup beras merah, atau konsentrat buah bisa menumpuk cepat, terutama jika digunakan dalam berbagai bentuk dalam satu produk.
“Gula tambahan seperti gula tebu, sirup beras merah, atau konsentrat buah sering kali menumpuk secara cepat, apalagi jika digunakan dalam beberapa bentuk dalam satu produk. Ini cenderung menyebabkan kenaikan drastis gula darah dan membuat seseorang ingin makan lebih sering,” ujarnya.
Minyak Nabati yang Diperproses
Minyak nabati yang diolah secara intens juga masuk ke dalam daftar bahan berisiko. Bahan ini umum ditemukan dalam camilan kemasan, sering dikombinasikan dengan karbohidrat dan garam untuk meningkatkan daya tarik rasa.
“Minyak seperti kedelai, jagung, atau canola sering kali menjadi bagian dari camilan kemasan. Bahan-bahan ini mudah dikonsumsi berlebihan, terutama saat dipadukan dengan karbohidrat dan garam, sehingga memperparah keinginan makan,” jelas Anderson.
Bahan Penguat Rasa
Kata ‘perisa alami’ dan ‘penguat rasa’ sering digunakan untuk menyampaikan bahwa produk terasa lebih enak. Namun, istilah tersebut bisa menjadi tanda bahwa camilan tersebut lebih fokus pada rasa, daripada nilai gizi.
“Kandungan perisa alami dan penguat rasa tidak selalu berbahaya, tapi sering menunjukkan bahwa camilan tersebut difokuskan pada rasa, bukan kesehatan,” tambah Anderson.
Kandungan Protein dan Serat Rendah
Snack dengan kadar protein dan serat rendah seringkali tidak sehat, meski tampilan produk menggambarkannya sebagai pilihan ‘sehat’. Tanpa komponen ini, camilan cenderung kurang mampu mempertahankan rasa kenyang.
“Walaupun terlihat ‘sehat’, jika tidak mengandung protein atau serat, camilan itu kemungkinan tidak akan membuat kenyang lama. Ini salah satu alasan utama orang merasa terus ingin ngemil,” kata Anderson.
Kebiasaan Makan yang Bisa Diperbaiki
Anderson menyarankan untuk memilih camilan alami seperti buah, kacang-kacangan, yogurt greek, atau minuman protein. Produk ini dinilai mengandung serat, protein, dan lemak sehat dalam rasio yang seimbang, sehingga membantu memperpanjang rasa kenyang.