Campak bukan penyakit baru – ini bedanya dengan Rubella

Campak Bukan Penyakit Baru, Ini Perbedaannya dengan Rubella

Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) menyatakan bahwa penyakit campak merupakan infeksi lama yang selama ini dianggap berbeda dari penyakit seperti rubella. Meskipun sering dikacaukan oleh masyarakat, campak tidak termasuk wabah baru seperti yang diakibatkan oleh virus SARS-CoV-2.

Penyebab dan Gejala yang Berbeda

Dr. dr. Adityo Susilo, Sp.PD, K-PTI, FINASIM, yang tergabung dalam PAPDI, menjelaskan bahwa campak disebabkan oleh virus Morbillivirus, dikenal pula sebagai rubeola. Sementara itu, rubella, atau campak Jerman, berasal dari virus yang berbeda.

“Campak ini bukan penyakit baru. Sudah ada sejak lama dan terus dipantau secara global,” ujar Adityo saat berbicara dalam PAPDI Forum dan Konferensi Pers dengan tema “Campak pada Dewasa: Tanda Bahaya dan Penanganan yang Tepat serta Peran Vaksinasi” di Jakarta pada Selasa.

Meski gejala keduanya memiliki kemiripan seperti ruam kulit, penyebab dan karakteristik penyakit ini berbeda. Adityo menegaskan bahwa kebingungan ini bisa dihindari dengan memahami perbedaan antara keduanya.

Tanda Khas dan Dampak yang Berbeda

Menurut Adityo, campak memiliki ciri khas berupa bercak Koplik, yaitu bercak putih kebiruan di bagian dalam pipi, yang tidak terdapat pada rubella. Selain itu, tiga gejala utama yang umum muncul pada campak adalah batuk, pilek, dan mata merah, dikenal sebagai “tiga C.”

“Rubella itu berbeda. Campak yang kita maksud adalah rubeola. Keduanya sama-sama ada ruam, tapi penyebab dan karakteristiknya tidak sama,” katanya.

Rubella umumnya lebih ringan, namun bisa menyebabkan risiko serius bagi janin jika terjadi pada ibu hamil. Sementara itu, campak tidak bersifat teratogenik, tetapi tetap bisa memicu komplikasi, terutama pada individu dengan sistem imun yang lemah.

Adityo menekankan bahwa pemahaman yang tepat tentang perbedaan penyakit ini sangat penting. Dengan membedakannya, masyarakat dapat mengenali gejala dan cara penanganan yang lebih akurat.

“Kalau kita bisa membedakan dengan benar, maka deteksi dan penanganannya juga bisa lebih tepat,” tambahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *