Facing Challenges: Kesiapan SDM poin penting untuk Indonesia miliki keamanan siber andal

Jakarta – Country Manager Kaspersky Indonesia Defi Nofitra mengatakan kesiapan sumber daya manusia (SDM) menjadi poin penting untuk Indonesia memiliki sistem keamanan siber yang andal. Menurutnya saat ini talenta digital Indonesia yang secara khusus mendalami keamanan siber di jalur pendidikan masih belum mencukupi kebutuhan industri terutama dunia bisnis yang banyak bersinggungan dengan masalah serangan siber. "Saya ingin menyoroti dari sisi sumber daya.

Perlu diakui bahwa Indonesia masih cukup rendah (SDM-nya). Artinya orang yang ngerti cybersecurity itu masih sedikit," kata Defi dalam wawancara cegat di Jakarta, Rabu. Ia mengatakan perlu dikembangkan dari sisi pendidikan agar kesadaran dan kebutuhan mengenai keamanan siber bisa bertumbuh dengan baik di Indonesia.

Saat ini, menurutnya Indonesia hanya memiliki segelintir universitas yang secara khusus menjadikan keamanan siber sebagai jurusan pendidikan dan salah satunya adalah Telkom University yang ada di Bandung. Kondisi di industri yang terjadi adalah para pekerja di bidang keamanan siber diisi oleh lulusan yang tidak sesuai seperti Teknik Elektro atau Teknik Mesin dan biasanya hanya mempelajari keamanan siber secara mandiri. Dengan kondisi itu dapat dikatakan Indonesia masih belum optimal dalam menjawab kebutuhan talenta digital di bidang keamanan siber untuk industri.

"Jadi mungkin banyak S1-nya mereka IT dan baru S2-nya cybersecurity. Kita jarang menemukan talenta yang dari S1-nya sudah diarahkan mendalami cybersecurity. Jadi misi kita salah satunya adalah untuk membangun talenta-talenta (keamanan siber) itu tadi," kata Defi.

Dalam hal masalah keamanan siber, Kaspersky mencatat pada 2023 secara global ada 370 ribu malware baru setiap harinya. Lalu dua tahun kemudian, di 2025 jumlah serangan siber sudah mencapai 500 ribu malware setiap harinya. Di Indonesia sendiri, di 2025 ada serangan siber sebanyak 14.909.665 kali.

Dengan total jumlah spyware yang diidentifikasi oleh Kaspersky mencapai 85.560. Teridentifikasi juga bahwa 20 persen perusahaan di Indonesia mengalami serangan siber pada sistem rantai pasoknya di tahun lalu. Penyebab serangan siber itu dapat dialami ternyata salah satunya akibat celah dari pihak yang paling dipercaya oleh perusahaan.

Tercatat 22 persen perusahaan di Indonesia mengalami serangan siber akibat faktor celah relasi tersebut. Berkaca dari semua temuan itu, peningkatan sumber daya manusia menjadi penting agar ke depannya keamanan siber di Indonesia dapat diisi oleh talenta digital dalam negeri yang andal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *