Guru Besar FKUI Ungkap Sederet Dampak Penderita Penyakit Campak
Guru Besar FKUI: Campak Masih Menjadi Ancaman Jangka Panjang
Di Indonesia, penyakit campak tetap menjadi isu yang mendapat perhatian. Meski jumlah kasus telah menunjukkan penurunan dalam beberapa minggu terakhir, para ahli menyatakan bahwa efek jangka panjang dari penyakit ini masih membahayakan. Dalam sebuah webinar kesehatan yang berjudul “Kupas Tuntas Campak: Dari Imunisasi Sampai Komplikasi”, Prof. Dr. dr. Hinky Hindra Irawan Satari, Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, menyoroti risiko yang bisa muncul hingga 7 hingga 10 tahun setelah infeksi awal.
“Campak tidak hanya menimbulkan masalah saat seseorang terinfeksi, tetapi juga bisa menyebabkan komplikasi serius bahkan setelah sembuh. Beberapa kondisi berat muncul belasan tahun kemudian dan bisa berujung fatal,” ujarnya.
Risiko kematian akibat campak tetap tinggi, menurut data yang disebutkan. Sekitar 1 dari 1.000 anak yang terpapar virus ini berisiko meninggal dunia, sementara sebagian lainnya mengalami gangguan seperti radang paru-paru atau radang otak. Prof. Hinky menambahkan bahwa penyakit ini termasuk salah satu yang paling mudah menyebar, dengan kemampuan menularkan virus ke 12 hingga 18 individu, lebih besar dibandingkan penyakit infeksi lain.
“Penularan campak sangat cepat karena satu orang yang terinfeksi bisa memengaruhi banyak orang di sekitarnya. Jika tidak dikendalikan, penyebarannya bisa berdampak luas,” terangnya.
Dalam sisi lain, Kementerian Kesehatan mencatat bahwa tren kasus campak di Indonesia memang mulai menurun. Direktur Imunisasi Kemenkes, dr. Indri Yogyaswari, mengatakan bahwa pada awal Januari 2026, jumlah kasus mingguan mencapai sekitar 2.900. Namun, hingga minggu ke-12, angka tersebut berkurang drastis menjadi 146 kasus per minggu.
Walaupun ada penurunan, kasus campak masih terjadi di beberapa wilayah. Provinsi Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat pernah mengalami peningkatan signifikan sebelum akhirnya membaik. Daerah seperti Tangerang, Depok, serta Palembang juga menjadi area yang sering dilaporkan memiliki tingkat infeksi tinggi.
Pemerintah menegaskan bahwa imunisasi adalah kunci utama dalam mengendalikan penyakit ini. Namun, cakupan vaksinasi di Indonesia masih kurang optimal. Dengan dua suntikan, perlindungan terhadap campak mencapai sekitar 97%, sehingga kemungkinan terjadinya komplikasi berat bisa diminimalkan. “Jika masih ada kasus, artinya imunisasi belum merata dan belum mencapai target,” jelas Indri.