IDAI bagikan kiat mengawasi anak yang sedang sleep training
IDAI bagikan kiat mengawasi anak yang sedang sleep training
Jakarta – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan panduan bagi para orang tua dalam mengawasi si kecil yang sedang menjalani sleep training. “Yang terpenting adalah hindari FOMO, jangan karena melihat figur publik menerapkan metode ini, maka langsung mengikuti tanpa mempertimbangkan kondisi anak,” jelas Ketua Pengurus Pusat IDAI DR. Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio (K) dalam temu media di Jakarta, Senin. Menurutnya, tidak ada satu cara tidur yang cocok untuk semua balita, karena masing-masing memiliki kebiasaan dan ritme berbeda.
“Sleep training yang diterapkan pada anak di bawah tiga tahun tidak boleh terlalu ketat. Orang tua wajib memastikan metode yang dipilih sesuai dengan kebutuhan dan kebiasaan si kecil,” tegas Piprim.
Sebelumnya, beredar informasi di media sosial Instagram bahwa seorang bayi berusia 4 bulan meninggal setelah menangis selama dua jam di atas kasur saat orang tuanya menerapkan sleep training. Bayi tersebut ditempatkan di kamar terpisah tanpa didampingi. Piprim mengingatkan bahwa kondisi anak harus dipantau secara rutin untuk mencegah risiko yang tidak terduga.
Peran Orang Tua dalam Proses Sleep Training
Menurut Piprim, selama proses sleep training, orang tua perlu tetap waspada dan tidak terlalu sibuk dengan aktivitas pribadi. “Jangan sampai ibu terlalu asyik bermain ponsel atau media sosial hingga anak tidak terpantau,” tambahnya.
“Jika si kecil menangis terlalu lama atau tampak stres, segera hentikan metode tersebut. Karena ini adalah periode transisi, bukan berarti anak harus selalu menangis tanpa bantuan,” kata Piprim.
Dr. Tuti Rahayu, Sp.A, Subsp. ETIA (K) dari Unit Kerja Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI Cabang DKI Jakarta (IDAI JAYA) menegaskan bahwa menangis selama sleep training adalah indikasi kebutuhan anak. “Anak menangis karena ada sesuatu yang tidak nyaman, seperti lapar, panas, atau kelelahan,” ujarnya.
“Jika menangis terlalu lama, bisa menyebabkan anak kelelahan. Oleh karena itu, orang tua perlu responsif dan segera mengecek keadaan si kecil,” tambah Tuti.
Menurut Tuti, lingkungan tidur juga memainkan peran penting dalam keberhasilan sleep training. Faktor seperti kasur terlalu empuk, bantal yang menutupi kepala bayi, atau banyaknya mainan yang menghalangi pernapasan bisa memperburuk situasi. “Anak usia 4 bulan baru mulai belajar mengangkat kepala, jadi kondisi tidur harus didesain agar aman dan nyaman,” pungkasnya.