Key Strategy: IDAI: Pengentasan campak dan polio butuh imunisasi yang merata
IDAI: Pemutusan Penyebaran Campak dan Polio Memerlukan Imunisasi yang Merata
Jakarta — Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menekankan bahwa untuk mengatasi penyakit campak dan polio di Indonesia, diperlukan kebijakan vaksinasi yang luas, merata, dan dilakukan secara konsisten. “Penyakit yang kembali muncul setelah periode pengendalian, seperti campak dan polio, jelas memerlukan upaya imunisasi yang berkelanjutan,” jelas Ketua Pengurus Pusat IDAI DR. Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio (K) dalam sesi temu media di Jakarta, Senin. Piprim menjelaskan bahwa sejarah menunjukkan bahwa penyebaran penyakit menular bisa dikendalikan berkat vaksinasi, meski hal ini tidak selalu mudah.
Kasus Polio dan Campak sebagai Tanda Kenaikan Risiko
Dalam contoh yang diberikan, Piprim menyebutkan bahwa polio berhasil ditekan sejak 1960-an melalui penerapan vaksin. “Kasus kejadian bisa dikelola jika vaksinasi dilakukan secara masif,” tegasnya. Namun, kini situasi semakin memprihatinkan. “Peningkatan kasus di Indonesia menunjukkan adanya kelemahan dalam program imunisasi, termasuk pengawasan laporan administrasi,” tambah dia. Hal serupa terjadi pada cakupan vaksinasi campak yang kini menurun, meski sebelumnya penyakit ini cukup teratasi.
“Saat KLB muncul, berarti cakupan imunisasi sedang melemah. Untuk menghadapi penyakit menular seperti campak, kekebalan kelompok harus mencapai di atas 95 persen,” ujar Piprim.
Peran Edukasi dan Layanan Kesehatan Primer
Piprim menyoroti pentingnya edukasi masyarakat terkait manfaat vaksinasi. “Saat ini, banyak kelompok di media sosial yang menyebar isu anti-vaksin,” katanya. Ia juga mengkritik fokus pemerintah pada layanan kesehatan tersier seperti rumah sakit dan pusat perawatan. “Layanan primer, seperti posyandu, justru perlu didukung lebih kuat,” tambah dia. Menurutnya, posyandu dan kadernya harus diberi fasilitas dan insentif yang memadai untuk memperkuat pengawasan di tingkat dasar.
Dalam kesempatan tersebut, Piprim mengingatkan bahwa keberhasilan pengendalian penyakit tergantung pada kolaborasi semua pihak. “Kami berharap masyarakat bersama pemerintah fokus pada upaya promotif-preventif agar anak-anak tidak lagi terpapar campak atau polio,” pungkasnya. Ia menyebutkan bahwa jika layanan kesehatan primer berjalan baik, kasus penyakit bisa dideteksi lebih dini dan diatasi secara efektif.