Solution For: 4 Gejala Hoarding Disorder, Kebiasaan Menimbun Barang Level Akut

Hoarding Disorder: Kebiasaan Menimbun Barang yang Menjadi Gangguan Mental

Pada hari Selasa, 7 April 2026, dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Yusuf Ryadi, menjelaskan bahwa kebiasaan menimbun barang dianggap sebagai tanda kemalasan atau kurang peduli kebersihan, tetapi dari perspektif psikologis, hal ini bisa menyebabkan gangguan serius bernama hoarding disorder. Penyakit ini berbeda dari kebiasaan mengoleksi atau kondisi kacau sementara karena memiliki dampak yang lebih dalam dan berkelanjutan pada kehidupan seseorang.

Mengapa Ini Menjadi Gangguan Mental?

Menurut dr Yusuf, hoarding disorder ditandai oleh kesulitan ekstrem untuk melepaskan barang, terlepas dari nilai guna atau kegunaannya. Akibatnya, ruangan penuh hingga mengganggu fungsi tempat tinggal atau aktivitas sehari-hari. Epidemiologis, kondisi ini diperkirakan terjadi pada sekitar 2-6% dari populasi umum, sehingga cukup umum ditemukan dalam praktik klinis.

“Banyak orang dengan kondisi ini tetap mampu menjalani kehidupan sosial, sehingga lingkungan sekitar sering tidak menyadari masalah hingga penyakit memburuk,” kata dr Yusuf dalam pernyataannya.

Gejala Umum Hoarding Disorder

Beberapa ciri utama gangguan ini meliputi: – Kesulitan membuang barang, bahkan yang sudah tidak terpakai – Keyakinan bahwa barang akan berguna di masa depan – Dorongan kuat untuk terus menimbun, hingga ruang hidup tidak lagi berfungsi secara normal – Emosional, penderita bisa merasa cemas atau tidak nyaman saat harus melepas barang

Dampak pada Kesehatan dan Keselamatan

Kondisi ini tidak hanya memengaruhi tampilan fisik ruangan, tetapi juga berisiko menyebabkan gangguan pernapasan, infeksi, serta paparan bahan berbahaya. Selain itu, lingkungan yang dipenuhi barang bisa meningkatkan bahaya kebakaran dan mempersulit proses evakuasi saat terjadi keadaan darurat.

Cara Penanganan

Penanganan hoarding disorder membutuhkan pendekatan bertahap, seperti: – Memilah barang secara teratur – Mengatur kategori penggunaan – Menetapkan batas waktu penyimpanan – Terapi Cognitive Behavioral Therapy (CBT) untuk memahami pola pikir dan pengambilan keputusan – Penggunaan obat jika disertai gangguan lain seperti kecemasan atau depresi – Dukungan keluarga dan lingkungan dengan pendekatan yang lembut, bukan tergesa-gesa

Perbedaan dengan Koleksi atau Kebiasaan Berantakan

Penting untuk membedakan hoarding disorder dengan kebiasaan mengoleksi atau kondisi kacau sementara. Gangguan ini bersifat menetap dan memengaruhi kualitas hidup secara signifikan. Sementara itu, koleksi atau berantakan yang sementara umumnya tidak menyebabkan kesulitan berarti dalam fungsi kehidupan sehari-hari.

Penyakit yang Diakui secara Resmi

Hoarding disorder telah resmi diakui sebagai diagnosis dalam DSM-5 sejak tahun 2013. Kondisi ini termasuk dalam spektrum gangguan obsesif-kompulsif. Meningkatkan pemahaman masyarakat akan penting untuk mengurangi stigma dan memastikan bantuan diberikan sejak dini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *