Solving Problems: Sering Gertakkan Gigi Saat Tidur?Hati-HatiBisa Dipicu Stres

Sering Gertakkan Gigi Saat Tidur? Hati-Hati, Bisa Dipicu Stres

Di Jakarta, kebiasaan menggertakkan gigi saat tidur, dikenal sebagai bruxism, tidak hanya memengaruhi kesehatan gigi. Kondisi ini juga berkaitan dengan fungsi otak dan sistem saraf, serta bisa memengaruhi kesehatan secara menyeluruh. Menurut dr Yeni Quinta Mondiani, SpN, dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, bruxism termasuk gangguan tidur yang perlu diwaspadai jika terjadi secara berulang.

Mekanisme dan Dampak Fisik

Bruxism mengacu pada gerakan berulang rahang bawah selama tidur, yang menyebabkan gesekan antar gigi. Aktivitas otot pengunyahan seperti masseter, temporalis, dan pterygoid meningkat, menghasilkan suara mengganggu. Selain itu, dapat menyebabkan kerusakan pada gigi dan sendi rahang. Secara medis, kondisi ini terjadi akibat gangguan aktivitas otot yang diatur oleh sistem saraf pusat, khususnya yang terkait dengan dopamin.

“Kontraksi otot menjadi lebih sering dan lebih kuat dibandingkan normal, menunjukkan adanya keterlibatan sistem saraf pusat,” jelas dr Yeni dalam keterangannya, yang dikutip pada Jumat (10/4/2026).

Prevalensi dan Faktor Penyebab

Bruxism bisa terjadi pada semua usia, tetapi lebih umum ditemukan pada anak-anak berusia 3 hingga 12 tahun. Prevalensi antara pria dan wanita relatif seimbang. Faktor psikologis seperti stres dan kecemasan menjadi pemicu utama. Semakin tinggi tingkat stres, semakin besar risiko mengalami kondisi ini.

Besides stres, faktor lain seperti genetik, kurang tidur, penggunaan obat tertentu, atau gangguan ritme sirkadian juga berkontribusi. dr Yeni menekankan pentingnya mengelola stres, karena hal ini tidak hanya memengaruhi kesehatan mental tetapi juga kualitas tidur serta kebugaran gigi dan rahang.

Tindakan dan Pengelolaan

Penanganan bruxism dilakukan berdasarkan penyebabnya. Beberapa langkah yang bisa diambil antara lain memperbaiki pola tidur, mengurangi stres, serta menggunakan pelindung gigi (mouth guard) untuk mencegah kerusakan. “Dalam kondisi tertentu, dokter juga dapat memberikan obat pelemas otot sebelum tidur untuk mengurangi kontraksi pada rahang,” tambah dr Yeni.

Jika bruxism disertai gejala seperti nyeri rahang, gigi retak, sensitivitas, atau kesulitan mengunyah, pemeriksaan lebih lanjut ke dokter spesialis dianjurkan. Kondisi ini juga sering dikaitkan dengan gangguan lain seperti sleep apnea atau masalah gerakan selama tidur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *