Special Plan: Maskapai Ramai-Ramai Naikkan Harga Tiket Pesawat, Ini Daftarnya
Maskapai Ramai-Ramai Naikkan Harga Tiket Pesawat, Ini Daftarnya
Gejolak geopolitik global memengaruhi industri penerbangan dengan kenaikan tajam harga bahan bakar pesawat. Akibatnya, sejumlah perusahaan penerbangan mulai menyesuaikan tarif tiket, bahkan memangkas jadwal penerbangan. Lonjakan biaya bahan bakar terjadi karena kenaikan harga minyak dunia, yang dipicu oleh konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya perang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Gejolak Geopolitik Mendorong Kenaikan Harga Bahan Bakar
Berdasarkan data dari International Air Transport Association (IATA), harga rata-rata jet fuel global mencapai US$197 per barel pada pekan berakhir 20 Maret, naik dari US$157,41 dua minggu sebelumnya. Angka ini hampir dua kali lipat dibandingkan US$95,95 pada 20 Februari. Sementara itu, harga minyak mentah Brent mencapai US$119 per barel, mendekati level tertinggi sejak konflik memanas.
“Konflik yang berlangsung di Timur Tengah terus memberi tekanan signifikan pada harga bahan bakar jet, serta berdampak besar pada operasi penerbangan di seluruh dunia,”
kata Cathay Pacific dalam pernyataan dikutip Newsweek, Minggu (12/4/2026).
Maskapai Terkena Dampak Kenaikan Harga Bahan Bakar
Beberapa perusahaan penerbangan mengambil langkah untuk menaikkan tarif tiket, dengan peningkatan bervariasi tergantung rute dan kebijakan masing-masing. Cathay Pacific, misalnya, menerapkan tambahan biaya bahan bakar (fuel surcharge) pada pembelian tiket mulai 1 April. Kebijakan ini berlaku untuk rute jarak jauh seperti Hong Kong ke Amerika Utara, Eropa, Timur Tengah, dan Afrika.
Di Selandia Baru, Air New Zealand meningkatkan tarif tiket sebesar +NZ$10 untuk rute domestik, +NZ$20 untuk jarak pendek, dan +NZ$90 untuk jarak jauh. Di Prancis, Air France-KLM menambahkan biaya tambahan 50 euro per perjalanan pulang-pergi untuk rute internasional. Qantas dari Australia juga mengonfirmasi kenaikan harga pada jaringan penerbangan internasionalnya.
Maskapai Thailand, Thai Airways, melaporkan kenaikan harga tiket hingga 10%-15% untuk mengimbangi kenaikan biaya bahan bakar, terutama menghadapi permintaan tinggi terhadap penerbangan ke Eropa. Sementara itu, maskapai berbiaya rendah AirAsia mengakui kenaikan tarif tak bisa dihindari, tetapi CEO Tony Fernandes menegaskan pihaknya akan berusaha menjaga harga tetap kompetitif.
“Harga tiket harus naik; tidak ada cara lain, namun harga yang kami tetapkan akan lebih rendah dibandingkan maskapai lain,”
imbuh Fernandes.