What Happened During: Pariwisata Dubai Berdarah-Darah, Tak Ada Turis Datang-PHK Mengintai

Pariwisata Dubai Terpuruk, PHK dan Pemotongan Gaji Mengintai

Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah merusak industri pariwisata Dubai secara signifikan. Kota yang dahulu terkenal sebagai destinasi wisata utama global kini mengalami penurunan drastis jumlah pengunjung, yang berdampak besar pada bisnis dan lapangan kerja. Dari data tercatat, tahun lalu Dubai mencatat 19,59 juta wisatawan internasional. Namun, sejak perang pecah pada 28 Februari, sektor pariwisata mengalami guncangan hebat.

Restoran, yang biasanya ramai di malam hari, kini banyak yang sepi. Natasha Sideris, pemilik jaringan Tashas, mengungkapkan pendapatan bisnisnya turun lebih dari 50%. “Kondisinya sangat parah. Saya harus memilih antara memecat 30% karyawan atau memotong gaji. Saya pilih menyelamatkan pekerjaan,” tutur Natasha, seperti yang dilaporkan BBC pada Senin (13/4/2026).

“Kami takut kehilangan pekerjaan lagi dan harus pulang ke negara asal,” kata seorang pekerja restoran.

Penurunan pengunjung menyebabkan sejumlah bisnis sementara menutup dan merumahkan karyawan. Dampak ini meluas ke sektor hotel, maskapai, serta agen perjalanan. Okupansi hotel dilaporkan hanya mencapai 15-20% dari level normal, bahkan ada yang hanya berada di angka satu digit. Penerbangan juga terganggu, dengan ribuan jadwal dibatalkan, termasuk di Dubai International Airport yang menjadi bandara internasional terpadat dunia.

Otoritas menyebutkan lebih dari 2.400 rudal dan drone telah diluncurkan ke wilayah Uni Emirat Arab, dengan sebagian puing jatuh di area permukiman dan hotel. Kegiatan pariwisata terus berkurang, dengan tingkat kunjungan hanya 15-20% dari biasanya. Banyak pengusaha terpaksa mengurangi jam kerja atau menutup operasional karena ketidakpastian.

Menurut lembaga riset Tourism Economics, kawasan Timur Tengah bisa kehilangan 23 hingga 38 juta wisatawan tahun ini, menyebabkan kerugian hingga US$34 miliar hingga US$56 miliar. Pemerintah Dubai sudah menyiapkan dana dukungan sebesar US$272 juta untuk mendukung bisnis, termasuk pariwisata, dengan insentif seperti penundaan pembayaran hotel.

Pemulihan industri ini sangat bergantung pada keberlanjutan situasi geopolitik. Jika konflik segera berakhir, sektor pariwisata diperkirakan bisa bangkit mulai Oktober. Namun, jika berlangsung lama, risiko PHK massal dan penutupan bisnis semakin meningkat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *