Key Strategy: Gubernur DKI dinilai perlu memperkuat karakter dalam kepemimpinan

Gubernur DKI Dinilai Perlu Memperkuat Karakter dalam Kepemimpinan

KATA RAKYAT PEMBERI PENILAIAN

Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru (KATAR) menilai Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung perlu mengembangkan sejumlah aspek kepribadian agar tidak menjadi celah dalam proses pengambilan keputusan. “Pemerintahan Jakarta beruntung memiliki kepala daerah yang berpengalaman serta jaringan luas, baik di tingkat pusat maupun daerah,” ujar Ketua KATAR Sugiyanto dalam pernyataan di Jakarta, Senin.

KARAKTER POSITIF DAN POTENSI KELEMAHAN

Sugiyanto menyebut bahwa Pramono memiliki kekuatan dalam pola kepemimpinan, seperti kecenderungan untuk selalu menjaga harmoni internal di lingkungan ASN, pejabat, dan BUMD. Namun, ia juga mengingatkan bahwa beberapa sifat ini bisa dianggap sebagai keterbatasan jika tidak dikelola dengan tepat, terutama dalam konteks kekuasaan eksekutif yang membutuhkan kejelasan dan kecepatan.

SEMBILAN KARAKTER YANG PERLU DIMANIPULASI

Menurut Sugiyanto, terdapat sembilan sifat yang bisa dikembangkan menjadi kekuatan. Pertama, sikap yang terlalu ramah, yang jika diarahkan dengan baik, bisa membentuk kepemimpinan humanis. Kedua, keengganan untuk menyakiti pihak lain, yang perlu diimbangi dengan kemampuan menetapkan prioritas kebijakan yang pro rakyat.

Ketiga, dorongan untuk menjaga stabilitas di lingkungan birokrasi. Keempat, sikap menghindari konflik terbuka. Kelima, kepercayaan tinggi kepada jajaran pejabat. Keenam, ketelitian dalam pemberian hukuman atau pergantian posisi. Ketujuh, kemauan untuk melindungi bawahan.

Kedelapan, rendahnya ambisi politik. Hal ini terlihat dari niat Pramono hanya menjabat satu periode serta tidak maju dalam Pilpres 2029. Kesembilan, rendah hati berlebihan dan kurang menunjukkan keputusan tegas dalam merancang kebijakan baru.

KONVERSI KARAKTER KE KEKUATAN STRATEGIS

Dalam konteks transformasi, Sugiyanto menilai karakter terlalu baik hati bisa diubah menjadi kekuatan dalam membangun visi Jakarta. Sementara keengganan untuk mengecewakan orang lain perlu diimbangi dengan kemampuan menyusun kebijakan yang lebih berpihak pada publik.

“Karakter yang terlalu rendah hati serta minimnya ambisi politik justru dapat melahirkan warisan yang lebih konkret, bukan hanya simbolik,” kata Sugiyanto.

Menurutnya, kepercayaan kepada pejabat harus dibarengi dengan sistem pengawasan yang ketat. Di sisi lain, kehati-hatian dalam pengambilan keputusan bisa menjadi keunggulan jika disertai dengan rencana sosialisasi program unggulan RPJMD 2025–2029.

POTENSI DAN TANTANGAN

Sugiyanto menilai Pramono Anung memiliki kapasitas memadai untuk mengubah sifat-sifat yang dimilikinya menjadi kekuatan. Namun, ia berperingatan bahwa di tengah kompleksitas tata kelola pemerintahan Jakarta, karakter ini bisa menyebabkan stagnasi jika tidak diimbangi dengan kesigapan dalam pengambilan keputusan.

Ia menambahkan bahwa pengalaman Pramono dalam dunia politik dan birokrasi menunjukkan pemahaman mendalam tentang dinamika kekuasaan serta pengelolaan sumber daya manusia. “Tantangan utama adalah mengubah kelemahan menjadi kekuatan strategis, bukan menghilangkannya,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *