Key Strategy: PAM Jaya dinilai mampu penuhi kebutuhan air saat kemarau ekstrem
PAM Jaya Dinilai Mampu Penuhi Kebutuhan Air Saat Kemarau Ekstrem
Dalam wawancara di Jakarta, Rabu, Pengamat Kebijakan Publik Sugiyanto menegaskan bahwa PAM Jaya memiliki kemampuan untuk memastikan pasokan air bagi warga ibu kota meski menghadapi musim kemarau ekstrem yang diperkirakan terjadi di bulan April 2026. Menurutnya, faktor utama yang perlu diperhatikan dalam menghadapi kekeringan adalah ketersediaan air baku, dan PAM Jaya telah menangani hal tersebut secara efektif.
“Persoalan utama dalam menghadapi kemarau yang perlu dicermati adalah ketersediaan sumber air baku, dan ini sudah diatasi dengan baik,” kata Sugiyanto.
Meski sebagian besar pasokan air baku PAM Jaya berasal dari luar kota, khususnya Waduk Jatiluhur yang menyumbang sekitar 92 persen atau 19.400 liter per detik, pengelolaannya dilakukan melalui kerja sama dengan pemerintah pusat, terutama Kementerian PUPR. Sementara sisa 8 persen atau 2.750 liter per detik berasal dari berbagai sumber air permukaan di Jakarta, seperti Sungai Krukut, Drain Cengkareng, Kanal Banjir Barat, serta Sungai Pesanggrahan, Kali Ciliwung, dan Sodetan Sungai Cisadane.
PAM Jaya juga terus menambah jumlah instalasi pengolahan air (IPA) dan sistem penyediaan air minum (SPAM) di berbagai wilayah, termasuk Buaran I, II, dan III, Pejompongan I dan II, Cilandak, hingga Taman Kota. Jumlah unit IPA tersebut akan ditingkatkan hingga mencapai 18 pada akhir tahun 2029. Selain itu, lembaga ini sedang mengeksplorasi potensi Bendungan Karian sebagai tambahan sumber air, yang saat ini dalam proses kerja sama.
Bendungan Karian memiliki kapasitas produksi air sekitar 22.150 hingga 22.265 liter per detik. Sugiyanto menambahkan bahwa infrastruktur ini menjadi pilar utama PAM Jaya dalam menjaga ketersediaan pasokan air, termasuk selama kemarau panjang.
Waduk Jatiluhur tetap menjadi sumber utama air baku, tetapi Sugiyanto memperkirakan kekeringan total sangat kecil kemungkinannya, meskipun dalam kondisi kemarau ekstrem. Hal ini karena ketersediaan air akan turun, bukan menghilang sepenuhnya. Teknik seperti modifikasi cuaca atau hujan buatan bisa digunakan untuk mempertahankan volume air di waduk tersebut.
Sedangkan kontribusi dari sungai-sungai di Jakarta cenderung hanya mengalami penurunan debit air, bukan kekeringan total, akibat minimnya curah hujan di wilayah hulu seperti Bogor dan Puncak. Meski hanya menyumbang 8 persen dari total pasokan, dampaknya terhadap kebutuhan air secara keseluruhan masih bisa dikendalikan.
Dalam rangka meningkatkan ketahanan air, PAM Jaya juga mendorong penggunaan teknologi desalinasi untuk mengubah air laut menjadi air tawar. Selain itu, pengolahan air limbah dengan metode modern, seperti membran bioreaktor, ultrafiltrasi, dan reverse osmosis, memberikan peluang besar dalam daur ulang air.
Terakhir, Sugiyanto menyebutkan bahwa teknologi pemanenan air dari udara, atau atmospheric water harvesting, bisa menjadi inovasi yang sangat potensial, terutama di daerah dengan tingkat kelembapan tinggi seperti Jakarta. Teknologi ini membantu memenuhi kebutuhan air saat sumber permukaan terbatas.