Special Plan: Jakbar sarankan warga beternak lele bantu atasi masalah sampah
Jakbar Sarankan Warga Beternak Lele untuk Mengurangi Sampah
Sebagai respons terhadap pengurangan kapasitas pengangkutan sampah ke TPST Bantar Gebang, Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Barat (Sudin LH Jakbar) menyarankan warga untuk memanfaatkan budidaya ikan lele sebagai solusi pengelolaan limbah organik. “Warga bisa memanfaatkan lele karena ikan ini tergolong mudah dalam mengonsumsi sampah organik,” jelas Kasudin LH Jakbar, Achmad Hariadi saat dihubungi Senin malam di Jakarta.
Pengurangan kuota pengangkutan sampah ke Bantar Gebang mencapai 38 persen, dari 308 menjadi 190 truk per hari, akibat insiden longsor pada 8 Maret lalu. Hal ini, menurut Hariadi, menjadi pelajaran penting bagi masyarakat untuk lebih sadar dalam mengelola sampah. “Kondisi saat ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada Bantar Gebang tidak lagi cukup, sehingga warga perlu lebih bijak dalam memilah dan membuang sampah,” imbuhnya.
Sebagai alternatif, Sudin LH Jakbar menerapkan strategi pengangkutan bertahap. “Kami mengirimkan dua muatan sampah dalam satu kali pengangkutan. Truk kecil dikumpulkan ke truk besar untuk diangkut ke Bantar Gebang,” terang Hariadi. Metode ini diharapkan dapat menutupi pengurangan kapasitas tersebut.
“Jika warga kesulitan memilah sampah, petugas Sudin LH siap membantu,” lanjutnya. “Mereka hanya perlu memilah, dan jika masih ada kesulitan, bisa meminta bantuan untuk menangani sampah organik.”
Di beberapa wilayah yang belum memiliki Tempat Penampungan Sementara (TPS), seperti Kalianyar dan Tambora, masalah penumpukan sampah menjadi lebih mengkhawatirkan. “Kalianyar misalnya, kesulitan memilah sampah karena minimnya lahan dan TPS,” katanya. Hariadi menegaskan bahwa memilah sampah serta menciptakan ekosistem lokal menjadi langkah efektif.
Selain itu, ia menyarankan masyarakat menggunakan metode komposter untuk mempercepat proses penguraian sampah organik. “Warga bisa membuat komposter dengan bahan-bahan sederhana, seperti galon, bahkan di lahan terbatas,” tambahnya. Pendekatan ini diharapkan mampu mengatasi keterbatasan ruang bertani.