Key Discussion: Masih Volatil, IHSG Tiba-Tiba Menguat 0,39% ke 7.309 di Akhir Sesi II
Masih Volatil, IHSG Tiba-Tiba Menguat 0,39% ke 7.309 di Akhir Sesi II
Pada hari ini, Kamis (9/4/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan 0,39%, mencapai level 7.307,59. Penguatan ini terjadi setelah indeks sempat melemah di sesi pertama. Dalam perdagangan, terdapat 374 saham yang turun, 278 naik, dan 164 tidak bergerak. Total nilai transaksi mencapai Rp 17,01 triliun, melibatkan 29,05 miliar saham dalam 2,24 juta transaksi. Kapitalisasi pasar tercatat berkurang menjadi Rp 12.956 triliun.
Menurut data Refinitiv, mayoritas sektor perdagangan mengalami peningkatan. Kenaikan terbesar dicatatkan oleh sektor infrastruktur dan energi. Di sisi lain, sektor finansial dan properti terkoreksi lebih dalam. Emiten perbankan seperti BBCA, BBRI, dan BMRI menjadi faktor utama yang menekan kinerja indeks. Saham paling aktif dalam perdagangan pagi ini meliputi BUMI, DEWA, serta beberapa emiten lainnya.
Sementara itu, pasar saham Asia-Pasifik mengalami pergerakan yang beragam pada hari ini. Peningkatan ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat menjadi sorotan. Setelah parlemen Iran menuduh AS melanggar kesepakatan gencatan senjata, pasar bergejolak. Trump mengumumkan gencatan senjata “dua arah” setelah lebih dari satu bulan konflik dengan Iran. Ia menyebut langkah ini sebagai dasar untuk negosiasi.
“Kami telah menerima proposal 10 poin dari Iran yang dinilai cukup layak untuk perundingan,” kata Trump dalam pernyataannya.
Kesepakatan ini bergantung pada kesiapan Iran membuka kembali Selat Hormuz, jalur energi vital global. Pemerintah Teheran menyatakan akan menghentikan operasi defensif jika serangan terhadap wilayahnya sepenuhnya dihentikan. Israel juga menyetujui gencatan senjata, meski situasi kawasan masih rapuh.
Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menuduh AS melanggar kesepakatan. Pelanggaran mencakup penolakan hak Iran memperkaya uranium, serangan Israel di Lebanon, serta masuknya drone ke wilayah udara Iran. Di sisi lain, harga minyak dunia melonjak karena ketidakpastian geopolitik. Kontrak West Texas Intermediate (WTI) naik 2,3% ke US$96,63 per barel, sementara Brent melonjak 1,87% ke US$96,50 per barel.
Konflik lima pekan yang memengaruhi pasokan energi global mulai mereda. Di Wall Street, pasar saham AS melonjak tajam setelah pengumuman gencatan senjata. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 2,85% ke 47.909,92, sedangkan S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing bergerak naik 2,51% dan 2,80%. Pasar keuangan Indonesia diharapkan melanjutkan tren penguatan, meski masih terdampak sentimen negatif.
Menurut risalah FOMC Maret, beberapa pejabat Federal Reserve mulai membuka peluang kenaikan suku bunga. Inflasi tetap di atas target 2%, terutama didorong lonjakan harga energi. The Fed mengadopsi pendekatan “dua arah”, mengisyaratkan kebijakan suku bunga bisa naik atau turun tergantung dinamika inflasi. Meski sebelumnya cenderung menurunkan suku bunga, jumlah peneliti yang mempertimbangkan kenaikan kini meningkat.