Key Discussion: Perang Picu Kenaikan Harga-harga, Suku Bunga BI Rate Masih Bisa Turun?
Perang Timur Tengah Mengakibatkan Fluktuasi Harga Energi, BI Masih Bisa Turunkan Suku Bunga?
Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel di Timur Tengah telah menimbulkan ketidakstabilan harga bahan bakar minyak, yang sering kali melebihi US$100 per barel. Menurut lembaga internasional, kenaikan harga BBM dapat menyebabkan efek domino, mendorong kenaikan harga berbagai barang lainnya. Namun, di Indonesia, tekanan inflasi akibat situasi tersebut, menurut Dimas Yusuf, Investment Director Sucor Asset Management, belum cukup kuat untuk memaksa Bank Indonesia (BI) menghentikan tren penurunan suku bunga.
Dimas mengungkapkan bahwa meski ada peningkatan inflasi dalam dua bulan awal 2026, ini lebih disebabkan oleh faktor dasar rendah karena pengurangan tarif listrik. “Kenaikan inflasi tahunan pada Januari 2026 mencapai 3,55%, dan Februari sebesar 4,76%. Jadi, dampak sementara ini mungkin terlihat, tapi secara keseluruhan, tren inflasi masih terkendali,” jelasnya dalam program Power Lunch CNBC Indonesia, Senin (30/03/2026).
Data Inflasi Tahun 2026
Dalam dua bulan pertama 2026, angka inflasi mengalami peningkatan, tetapi Dimas menekankan bahwa ini bukan indikasi jangka panjang. Ia mengatakan bahwa meski ada peningkatan, penyesuaian tarif listrik menjadi penyebab utama perubahan tersebut. “Dengan data inflasi yang stabil, BI masih punya ruang untuk melanjutkan kebijakan penurunan suku bunga,” tambahnya.
Sinyal Pemerintah dalam Memperbaiki Pertumbuhan Ekonomi
Dimas juga menyebutkan bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, pasar keuangan mulai menangkap sinyal bahwa inflasi bisa dioptimalkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. “Pemerintah saat ini lebih terbuka terhadap inflasi yang sedikit lebih tinggi, dengan harapan meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang sebelumnya belum optimal,” ujarnya.
“Jadi, kalau kita evaluasi dampak yang satu kali terjadi, mungkin tren kenaikan inflasi kita masih bisa dilihat, meski secara keseluruhan ada keseimbangan antara inflasi dan pertumbuhan ekonomi,”
Di sisi lain, Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman menjelaskan bahwa konflik Timur Tengah bisa memicu tekanan inflasi dari gangguan rantai pasok global dan kenaikan harga komoditas. “Ini berpotensi memberi dampak signifikan, terutama dari sisi pasokan dan harga bahan bakar minyak,” kata Aida dalam konferensi pers hasil rapat dewan gubernur BI secara daring, Selasa (17/3/2026).
Fokus BI pada Pengendalian Suku Bunga
Perry Warjiyo, Gubernur BI, juga memberikan sinyal bahwa kebijakan suku bunga acuan akan tetap dijaga. Menurutnya, dampak perang di Timur Tengah berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan tekanan inflasi, serta menarik arus modal asing ke luar negeri. “Karena ini, kami tidak lagi menyebut kemungkinan penurunan suku bunga dalam pernyataan terbaru,” tuturnya.
“Dampak konflik di Timur Tengah membuat kami fokus pada pengendalian inflasi dan stabilitas ekonomi, termasuk pergerakan kurs rupiah yang terus berfluktuasi,”