Key Strategy: Bank-Bank Mulai Ngerem Penyaluran Kredit, Fokus Cari Dana Murah
Bank-Bank Mulai Ngerem Penyaluran Kredit, Fokus Cari Dana Murah
Di tengah ketidakpastian global, industri perbankan mulai mengambil langkah hati-hati dalam penyaluran kredit. Perusahaan-perusahaan bank fokus pada pengaturan rasio pinjaman terhadap simpanan, atau Loan to Deposit Ratio (LDR), untuk memastikan keseimbangan likuiditas. Strategi ini dilakukan untuk mengurangi risiko ketidakstabilan, sekaligus memperkuat sumber dana berbiaya rendah seperti rekening tabungan atau dana kas.
PT Bank Mega Tbk (MEGA) menjadi contoh, dengan target LDR sebesar 70%. Angka ini lebih rendah dibandingkan aturan Bank Indonesia (BI) yang berada di rentang 78%-92%. Meski kebijakan ini bisa mengakibatkan denda giro wajib minimum, Direktur Utama MEGA, Kostaman Thayib, menyebut pertimbangan likuiditas lebih mendesak. “Menjaga likuiditas adalah prioritas utama bagi Bank Mega, terutama jika terjadi krisis. Pengalaman menunjukkan, saat krisis, nasabah bisa menarik 30% dari dana yang ada di bank,” ujarnya saat jumpa pers di Auditorium Bank Mega, Selasa (31/3/2026).
Bank papan tengah milik CT Corp itu berusaha mempertahankan stabilitas likuiditas dengan meningkatkan pendapatan dari dana murah. Hal serupa juga diambil oleh PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP), yang mencatatkan LDR sebesar 70,4% sepanjang 2025. Penurunan rasio ini disebabkan oleh pertumbuhan simpanan yang lebih cepat dibandingkan penyaluran kredit. Presiden Direktur OCBC Indonesia, Parwati Surjaudaja, mengatakan rasio tersebut sudah melebihi 70% pada tahun ini, tetapi diprediksi tetap stabil di level 80% untuk 2026.
“Kami ingin memastikan likuiditas tetap terjaga baik dalam kondisi sekarang maupun di masa depan,” kata Parwati saat konferensi pers RUPST OCBC Indonesia, Kamis (9/4/2026).
Menurut Parwati, pertumbuhan terbesar dari LDR berasal dari peningkatan dana berbiaya rendah (low cost funding), terutama dari rekening tabungan. Ini menjadi strategi utama bank-bank untuk mengurangi biaya operasional sambil memenuhi kebutuhan likuiditas. Kebijakan serupa diharapkan bisa membantu perbankan menghadapi tantangan ekonomi global yang terus berlanjut.