Key Strategy: Ini Penyebab IHSG Turun 2,19% Jelang Long Weekend
Ini Penyebab IHSG Turun 2,19% Jelang Long Weekend
Jakarta, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 2,19% pada level 7.026,78, dengan penurunan sebesar 157,66 poin. Hari ini, sebanyak 558 saham mengalami penurunan, 184 naik, dan 216 bergerak stabil. Total nilai transaksi mencapai Rp12,76 triliun, melibatkan 23,93 miliar saham dalam 1,77 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar juga turun hingga Rp12.305 triliun.
Sektor utilitas menjadi paling terpuruk, melorot 10,53% berkat penurunan signifikan saham Barito Renewables Energy (BREN) 12,73% ke level 4.800. BREN berkontribusi 25,83 poin terhadap penurunan IHSG. Diikuti oleh sektor bahan baku turun 5,68% dan teknologi 2,75%.
Pernyataan Trump
Penurunan IHSG terus berlanjut sejak pagi hari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan pidato terbaru tentang perang Iran. Trump menegaskan bahwa operasi “Epic Fury” akan terus berjalan hingga semua tujuan strategis tercapai. Ia menyebutkan bahwa serangan “sangat keras” akan diluncurkan dalam dua hingga tiga minggu ke depan, yang diharapkan menimbulkan dampak besar.
“Kita akan membawa mereka kembali ke zaman batu,” ujarnya dalam pidato kenegaraan di Gedung Putih, Rabu (1/4/2026) malam waktu setempat.
Dalam pernyataannya, Trump juga menyatakan bahwa perubahan rezim bukan tujuan utama operasi tersebut, meskipun menurutnya banyak pemimpin Iran telah tewas selama konflik berlangsung. Ia memperingatkan bahwa jika tidak ada kesepakatan dalam waktu dekat, AS siap menyerang infrastruktur Iran, termasuk pembangkit listrik, secara bersamaan.
Namun, Trump menambahkan bahwa fasilitas minyak Iran belum menjadi target utama, meskipun menurutnya itu merupakan sasaran yang paling mudah dihancurkan. “Mereka tidak punya pertahanan udara. Radar mereka hancur. Kita tak terhentikan,” tambahnya.
Dampak ke Pasar Global
Harga minyak kembali naik tajam. Harga Brent mencapai US$108,89 per barel, naik lebih dari 7,65%. West Texas Intermediate (WTI) juga melesat ke US$107,86 per barel, atau kenaikan 7,71%. Sementara itu, bursa Asia mengalami penurunan tajam, dengan Indeks Kospi Korea turun 4,47%, Nikkei Jepang merosot 2,38%, Hang Seng Hong Kong turun 0,7%, dan ASX200 -1,06%.