Latest Program: Dolar AS Tembus Rp17.000, Biaya Impor Naik 15-20%
Dolar AS Tembus Rp17.000, Biaya Impor Naik 15-20%
Pada Rabu, 1 April 2026, rupiah mencapai level terendah sepanjang waktu di Rp17.000 per dolar AS, menurut data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI). Kurs referensi yang terbentuk pada hari tersebut berada di Rp17.002, terus menunjukkan tekanan terhadap mata uang lokal. Sejak awal Maret 2026, rupiah konsisten bergerak di kisaran Rp16.900 per dolar, dengan catatan pada 16 Maret 2026 mencapai Rp16.990 dan terus berfluktuasi hingga Rp16.999 pada 31 Maret 2026.
Kalangan importir yang tergabung dalam Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) mengungkapkan kekhawatiran terhadap pelemahan nilai tukar rupiah. Ketua Umum GINSI, Subandi, menyatakan bahwa situasi ini menyebabkan biaya barang impor meningkat signifikan. “Sebetulnya importir sudah putus asa terkait pelemahan rupiah terhadap dolar,” tutur Subandi kepada CNBC Indonesia, dikutip Kamis (2/4/2026).
“Yang pasti harga beli barang dari negara asal naik, ongkos pengiriman dari negara asal seperti transportasi laut naik, biaya di pelabuhan yang menggunakan mata uang US$ naik,” tegas Subandi.
Subandi menambahkan, hingga kini otoritas moneter belum mampu menyediakan kebijakan yang mampu mengangkat stabilitas kurs rupiah. Meskipun pada penutupan perdagangan kemarin, rupiah berhasil membalikkan keadaan dan menguat sebanyak 0,09% ke Rp16.975/US$. Namun, dalam perdagangan intraday, mata uang garuda sempat menyentuh Rp17.026/US$, menjadi level terlemah sepanjang sejarah secara intraday.
Kepala Ekonom Davidi Sumual mengatakan, pelemahan rupiah utamanya disebabkan oleh tekanan eksternal, khususnya kenaikan harga minyak mentah dunia akibat konflik di Timur Tengah. “Jadi masih soal sentimen negatif eksternal seperti kenaikan harga minyak dan kekhawatiran dampaknya ke APBN,” ujarnya kepada CNBC Indonesia, Rabu (1/4/2026).
Faisal Rachman dari Permata Bank juga mengakui bahwa selain faktor eksternal, rupiah masih terbebani oleh sentimen negatif internal. Ia menjelaskan, keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga bensin non subsidi menciptakan ketidakpastian terhadap kondisi fiskal Indonesia. “Dan keempat, ada antisipasi juga terhadap rilis data inflasi dan trade balance Indonesia,” tegasnya.
Berdasarkan analisisnya, peningkatan sentimen global membuat Bank Indonesia kemungkinan tidak segera melakukan intervensi di pasar valuta asing. Selain itu, masuknya periode triwulan kedua memicu kenaikan pembayaran imbal hasil aset keuangan Indonesia ke non resident secara musiman. “Jadi masih soal sentimen negatif eksternal seperti kenaikan harga minyak dan kekhawatiran dampaknya ke APBN. Ada selling pressures yang cukup kuat dari asing di pasar SUN,” ujar Sumual.