New Policy: Di Tengah Risiko Perang AS-Iran, Bankir Putar Otak Jaga Likuiditas

Di Tengah Risiko Perang AS-Iran, Bankir Putar Otak Jaga Likuiditas

Kondisi Geopolitik Memengaruhi Kinerja Perbankan

Dalam situasi geopolitik yang semakin memanas, industri perbankan Indonesia terus menghadapi berbagai ancaman. Penurunan permintaan kredit, fluktuasi inflasi, perubahan nilai tukar, serta risiko pasar menjadi tantangan utama. Untuk mengatasi hal tersebut, para manajer bank berusaha memperkuat strategi pengelolaan likuiditas agar tetap stabil.

Bank Mega Fokus pada Rasio Pinjaman dan Simpanan

PT Bank Mega Tbk (MEGA) salah satu contoh bank yang proaktif dalam menjaga keseimbangan likuiditas. Direktur Utamanya, Kostaman Thayib, menjelaskan bahwa pihaknya membatasi rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) di bawah ambang batas Bank Indonesia (BI), yaitu 70% dibandingkan 78%-92%. Meskipun kebijakan ini bisa mengurangi penyaluran kredit, ia menegaskan prioritas utama adalah menjaga ketersediaan dana.

“Bagi Bank Mega, menjaga likuiditas lebih penting dari segala hal. Terutama dalam kondisi krisis, pengalaman kami menunjukkan sekitar 30% dana nasabah bisa ditarik dalam waktu singkat,” kata Kostaman saat diwawancara di Auditorium Bank Mega, Selasa (31/3/2026).

Sebagai bank papan tengah yang berada di bawah CT Corp, Bank Mega juga mendorong pertumbuhan dana murah (low cost funding) guna mengamankan cadangan likuiditas.

CIMB Niaga Jaga Likuiditas dengan Kebijakan CASA

PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) menyatakan bahwa likuiditas saat ini masih terjaga baik. Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, mengungkapkan hal ini didorong oleh penurunan permintaan kredit. Namun, ia menambahkan bahwa bank terus mengoptimalkan dana murah, terutama dari nasabah non ritel.

“Likuiditas masih stabil karena permintaan kredit lemah. Kami tetap fokus pada CASA, terutama dari segmen non ritel,” ungkap Lani saat dihubungi CNBC Indonesia, Rabu (1/4/2026).

Dalam upaya memperkuat posisi keuangan, CIMB Niaga menetapkan target LDR sekitar 85%-90% pada akhir tahun 2026. Selain itu, pihaknya memiliki skenario uji ketahanan (stress test) yang terkoordinasi dengan regulator.

BRI Tegaskan Ketersediaan Dana dalam Kondisi Eksternal

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga mengambil langkah serupa untuk memastikan stabilitas likuiditas. Corporate Secretary BRI, Dhanny, menegaskan bahwa meskipun ada ketegangan geopolitik, bank pelat merah ini masih mampu menjaga keseimbangan dana.

“BRI secara konsisten menjaga komposisi dana murah (CASA), menyalurkan kredit secara selektif, serta menyediakan buffer likuiditas yang memadai. Selain itu, optimalisasi seluruh sumber likuiditas terus dilakukan untuk memenuhi standar regulator,” kata Dhanny saat dihubungi CNBC Indonesia, Rabu (1/4/2026).

Dhanny menyebutkan bahwa kegiatan transaksi nasabah tetap menunjukkan performa yang kuat, didukung oleh ekosistem digital yang solid. Mayoritas transaksi dilakukan melalui BRImo dan QLola by BRI, yang juga berkontribusi pada peningkatan dana murah dan pendapatan berbasis biaya.

KB Indonesia Antisipasi Risiko pada Sektor Sensitif

PT Bank KB Indonesia Tbk (BBKP) alias KB Bank melakukan langkah mitigasi untuk menghadapi potensi dampak dari ketegangan geopolitik. Direktur Utamanya, Kunardy Darma Lie, menjelaskan bahwa pihaknya mengawasi eksposur pada sektor yang rentan, seperti manufaktur, transportasi, energi, dan ritel.

Sektor-sektor ini memiliki ketergantungan tinggi pada impor dan volatilitas indikator makroekonomi. Dalam manajemen risiko, KB Bank melibatkan evaluasi berkala terhadap ketersediaan modal (CAR) dan kemampuan menahan risiko peningkatan NPL.

“Kami melakukan pendekatan proaktif untuk memastikan modal dan likuiditas tetap memadai dalam berbagai kondisi ekonomi,” ujar Kunardy saat diwawancara, Rabu (1/4/2026).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *