New Policy: Intip Prospek Emiten EBT di Tengah Dinamika Indeks Global
Prospek EBT Masih Terbuka di tengah Fluktuasi Indeks Global
Jakarta – Pasar emiten energi baru terbarukan (EBT) kini diprediksi masih memiliki peluang tumbuh meski menghadapi perubahan dinamika indeks global. Meskipun sempat mengalami penurunan setelah pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI), saham perusahaan EBT dianggap mampu bangkit tahun ini. Ini didukung oleh sejumlah faktor yang memperkuat perspektifnya.
Salah satu alasan utama adalah peningkatan bauran energi, komitmen dekarbonisasi, serta dukungan investasi strategis yang terus mengalir. Terlebih, FTSE Russell baru saja mengonfirmasi bahwa pasar modal Indonesia tetap berada di level secondary emerging market, tidak termasuk dalam daftar pantauan (Watch List) untuk penurunan status. Keputusan ini menjadi bukti kredibilitas reformasi pasar dan memberi dasar kuat di tengah sentimen negatif terkait indeks MSCI.
Meski demikian, pengumuman High Shareholding Concentration (HSC) oleh BEI akhir-akhir ini memicu spekulasi mengenai tekanan jual terhadap emiten besar seperti BREN dan DSSA. Namun, reaksi pasar dianggap sebagai respons psikologis sementara yang mengabaikan mekanisme pasar yang sebenarnya.
“Keputusan FTSE Russell mempertahankan Indonesia sebagai Secondary Emerging Market dan tidak memasukkan ke dalam Watch List, menjadi sinyal validasi yang penting. Dengan dua lembaga indeks global mengevaluasi pasar yang sama, salah satu memberikan penilaian positif yang tegas,” tulis laporan Strategic Note Henan Sekuritas, Minggu (12/4/2026).
Konfirmasi tersebut memperkuat keyakinan investor global dan domestik. Manajer aset terbesar dunia, BlackRock, tercatat terus menambah kepemilikan di BREN. Kenaikan kepemilikan BREN mencapai 176 kali sejak kuartal pertama 2024, menunjukkan kepercayaan tinggi terhadap sektor energi terbarukan. Institusi lokal dengan AUM besar juga siap menerima likuiditas sebagai counterparty alami.
Selain itu, Volume Weighted Average Price (VWAP) 6 bulan BREN tercatat bergerak di rentang Rp9.000 hingga Rp9.100 dengan volume transaksi lebih dari tiga miliar lembar saham. “Risiko likuiditas yang muncul di publik jauh lebih besar dari kenyataannya. Data VWAP menunjukkan harga rata-rata stabil di kisaran tersebut, yang menjadi fondasi kuat untuk akumulasi,” tambah riset Henan Sekuritas.
Dengan demikian, perubahan indeks global tidak menghambat pertumbuhan operasional perusahaan. BREN tetap berkomitmen mengembangkan kapasitas 1 GW melalui kontrak PPA jangka panjang yang konsisten. Hal ini tidak memerlukan pertanyaan lebih lanjut.
“Volatilitas akibat sentimen jangka pendek cenderung sementara, sementara nilai intrinsik akan tetap ditentukan oleh fondasi fundamental jangka panjang,” tutup laporan riset Henan Sekuritas.