Perang Bikin Kapal Mandek di Selat Hormuz – Asuransi Kena Risiko Ini

Perang Bikin Kapal Mandek di Selat Hormuz, Asuransi Kena Risiko Ini

Perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS) menyebabkan pembatasan akses melalui Selat Hormuz, yang berdampak pada penghambatan arus kapal. Situasi ini memperbesar ancaman terhadap sektor asuransi umum yang menangani risiko klaim perdagangan internasional serta transportasi laut. Direktur Utama Asuransi Asei, Dody Dalimunthe, mengungkapkan bahwa premi asuransi perang mungkin meningkat tiga kali lipat akibat dari memuncak ketegangan geopolitik global.

Insuransi Perdagangan Mengalami Penurunan Kepercayaan

Ketegangan geopolitik yang memanas memicu keterlambatan pengiriman barang. Hal ini berdampak signifikan pada sektor asuransi perdagangan, khususnya terkait kepastian pembayaran dalam transaksi ekspor-impor. Dody Dalimunthe menjelaskan bahwa delay ini bisa mengganggu kesepakatan pembelian di luar negeri.

“Barang yang seharusnya diterima dalam sebulan bisa tertunda hingga beberapa minggu. Akibatnya, pembeli di luar negeri yang telah menyetujui transaksi mungkin kehilangan minat beli, menyebabkan barang menumpuk dan tidak bisa dibayar ke eksportir,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Senin, (13/4/2026).

Perusahaan Pelat Merah Siap Antisipasi Risiko

Presiden Direktur Tugu Insurance, Adi Pramana, mengakui bahwa perusahaan telah mempersiapkan langkah untuk menghadapi kenaikan risiko akibat konflik perang. TUGU, sebagai bagian dari Pertamina, ikut melindungi kapal tanker migas milik perusahaan tersebut.

“Ada sedikit peningkatan risiko akibat perang ini, jadi klaim mungkin naik. Tapi kami berupaya maksimal untuk membawa kapal kembali ke Indonesia,” tuturnya dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat, (10/4/2026).

Kapal Pertamina Masih Terjebak di Selat Hormuz

Akhir-akhir ini, dua kapal tanker milik PT Pertamina (Persero) masih terjebak di Selat Hormuz. Pemerintah sedang berupaya intens dengan Iran agar kapal tersebut dapat berlayar kembali.

“Saat ini, komunikasi intens sedang dilakukan terkait dua kapal tersebut. Semoga dalam dua minggu mendatang konflik bisa selesai,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam Konferensi Pers di Istana Negara, Rabu (8/4/2026).

Bahlil menambahkan bahwa kapal-kapal tersebut membawa minyak mentah, bukan produk olahan seperti Bahan Bakar Minyak (BBM). “Kandungan minyak mentah sekitar 20%-25% dari total impor dari Timur Tengah,” tegasnya.

Pengaruh Terhadap GWP Asuransi Offshore

Dilaporkan, sektor asuransi offshore menyumbang 10,52% dari total GWP TUGU yang mencapai Rp6,37 triliun. Meski belum ada klaim akibat perang, segmen ini tetap menjadi penopang penting bagi pertumbuhan premi asuransi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *