Solving Problems: Jangan Panik Warga RI, Kekuatan Fundamental Rupiah Baik!
Jangan Panik Warga RI, Kekuatan Fundamental Rupiah Baik!
Jakarta, Nilai tukar rupiah mengalami penurunan pada perdagangan awal pekan ini, Senin (13/4/2026), seiring penguatan dolar AS di pasar global. Menurut data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp17.100 per dolar AS, mengalami penurunan 0,09%.
Pelemahan ini terjadi setelah rupiah ditutup sedikit melemah pada Jumat (10/4/2026), dengan nilai terakhir Rp17.085 per dolar. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David E. Sumual, menilai meski ada penurunan, kekuatan fundamental rupiah tetap dalam kondisi baik. Ia menambahkan bahwa jika dibandingkan dengan mata uang lain, performa rupiah justru meningkat.
“Meski rupiah sedang melemah, kekuatan fundamentalnya cukup solid. Biasanya, ekonom menilai performa mata uang ini secara relatif terhadap mata uang lain, dan rupiah terlihat lebih baik,” ujar David dalam Central Banking Forum 2026.
David juga menekankan bahwa impor yang dilakukan Indonesia, meski besar, justru mendukung pertumbuhan ekspor. Pasokan dolar yang berlimpah untuk memenuhi kebutuhan impor dianggap wajar. Namun, ia mengingatkan bahwa impor tidak selalu memperparah tekanan terhadap rupiah.
Inflasi di dalam negeri tetap terkendali. Meskipun angka inflasi mengalami kenaikan signifikan pada Februari dan Maret, pertumbuhannya mulai menurun secara perlahan, menurut David. Hal ini memberi indikasi bahwa rupiah layak untuk membaik dalam jangka waktu tertentu.
Erwin Gunawan, kepala departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, menyebutkan tiga indikator yang menunjukkan potensi penguatan nilai tukar rupiah. Ia menekankan bahwa indikator-indikator tersebut mencerminkan kondisi fundamental rupiah.
“Dari tiga indikator yang dianalisis, rupiah menunjukkan kondisi yang relatif stabil,” ujar Erwin dalam kesempatan yang sama.
Salah satu indikator utama yang menunjukkan rupiah dalam kondisi sehat adalah defisit transaksi berjalan yang masih berada di level 0,69%. Angka ini belum melebihi batas toleransi Indonesia. Tekanan inflasi juga terus berada dalam batas target BI, yaitu 2,5% plus minus 1%, dengan angka terakhir 3,48% yang dirilis BPS bulan Maret 2026.
Kadang, cadangan devisa saat ini mencapai US$ 148,2 miliar, yang lebih tinggi dari standar global. Besaran ini memungkinkan negara memenuhi kebutuhan impor selama enam bulan dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Erwin menambahkan bahwa tekanan terhadap nilai tukar rupiah saat ini terutama dipengaruhi oleh risiko eksternal, seperti konflik di Timur Tengah antara AS, Israel, dan Iran. Isu ini tidak mendasar, sehingga rupiah memiliki potensi untuk menguat dalam jangka menengah hingga panjang.