Special Plan: Gagal Rebound, IHSG Hari Ini Ditutup Turun 0,61%

IHSG Hari Ini Terkoreksi, Mengakhiri Sesi Dengan Penurunan 0,61%

Jakarta, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada sesi perdagangan hari ini, Selasa (31/3/2026). IHSG ditutup turun 0,61% atau 43,45 poin, berada di level 7.048,22. Sebanyak 270 saham mengalami kenaikan, 435 saham merosot, dan 253 saham tidak berubah. Transaksi pasar mencapai Rp 14,92 triliun, dengan total 25,73 miliar saham yang diperdagangkan dalam 1,72 juta kali transaksi.

Volatilitas IHSG Terbilang Tinggi

IHSG sempat berada di zona hijau saat pembukaan pasar, tetapi kemudian tergelincir ke zona merah. Di akhir sesi pertama, IHSG menutup dengan koreksi setelah sempat menguat sebelumnya. Sumber informasi dari Refinitiv mengungkapkan, sektor utilitas, energi, dan industri mengalami penurunan signifikan. Beberapa saham utama seperti Barito Renewables Energy (BREN), Bayan Resources (BYAN), serta Energi Mega Persada (ENRG) menjadi penyumbang utama tekanan negatif pada IHSG.

Aksi Investor Asing Masih Berdampak Negatif

Dalam sesi perdagangan pertama, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp878,5 miliar. Data dari Indo Premier menunjukkan, pembelian asing mencapai Rp2,4 triliun, sementara penjualan lebih dominan mencapai Rp3,3 triliun. Aksi jual asing masih menguasai pasar, terutama pada saham perbankan dan sektor energi. Meski demikian, beberapa saham big caps seperti BMRI, BBCA, dan TLKM tetap mencatatkan aksi beli.

Koreksi Investor Asing pada Saham Terpilih

Pada sisi penjualan, investor asing paling banyak melepas saham BBRI senilai Rp139,6 miliar. Diikuti oleh BRMS dengan penjualan Rp99,0 miliar dan BUMI Rp69,2 miliar. Penjualan asing juga terlihat pada saham MEDC Rp51,3 miliar serta CUAN Rp42,8 miliar.

Mayoritas Bursa Asia-Pasifik Melemah

Di sisi regional, sebagian besar bursa Asia-Pasifik juga terpantau melemah. Kospi di Korea Selatan terpuruk hingga 4,26%, sementara Nikkei di Jepang turun 1,58%. Namun, Hang Seng di Hong Kong justru menguat tipis 0,15%.

Konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel Memicu Kegelisahan Global

Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang memasuki pekan kelima terus menjadi penyebab utama ketidakpastian pasar. Hal ini dipicu oleh gangguan di Selat Hormuz yang belum sepenuhnya teratasi. Presiden AS Donald Trump pada Senin lalu kembali memperingatkan Iran untuk membuka jalur tersebut, di tengah ketidakjelasan hasil negosiasi diplomatik dan tingginya tensi militer.

“Oleh karena itu, Pertamina menyatakan bahwa Pertamina belum akan melakukan penyesuaian harga baik untuk BBM subsidi maupun BBM non-subsidi,” ujar Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.

Dari dalam negeri, Prasetyo Hadi memberikan pernyataan terkait isu penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) yang berkembang di masyarakat. Ia berharap pernyataan ini memberikan kejelasan dan keakuratan informasi, serta memastikan masyarakat tidak perlu cemas terhadap ketersediaan BBM. “Kita jamin harga tidak akan berubah,” tambahnya.

Penyumbang risiko global ini masih terus menggantung, terutama karena Selat Hormuz dianggap sebagai jalur vital bagi perdagangan energi dunia. Gangguan yang berlangsung lama di kawasan tersebut terus memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak mentah dan gas, khususnya bagi Asia yang bergantung pada energi dari Timur Tengah. Sampai jalur ini pulih, pasar akan terus menambahkan premi risiko yang tinggi pada harga energi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *